Jumat, 09 November 2018

Cerita Sex: Kehilangan Perawanku


Bandar Judi: Nurlela hendak berteriak minta tolong, tapi mulutnya langsung dibekap oleh preman yang berdiri di belakang Nurlela.  ternyata, 3 preman itu tidak mabuk meskipun mereka minum-minum karena minuman berakoholnya cuma sedikit dan lebih banyak air. Maklum preman gak modal. 2 preman yang lain tertawa dengan licik melihat Nurlela yang sudah tidak berdaya.

"gila,,bening banget nih cewek,,mimpi ape kite kemaren,,".

"kalo gue sih mimpi ketiban duren,,".

"udeh lo bedua berisik banget,,mending lo bedua buka jaket nih cewek,,".

"oke bos,,". Salah satu preman itu menarik resleting jaket Nurlela ke bawah sementara preman terakhir memegangi kaki Nurlela agar tidak menendang-nendang lagi. Preman yang ditugasi untuk membuka jaket sangat kaget ketika resleting jaket Nurlela sudah terbuka sampai ke perutnya.

gila,,ni cewek cuma pake jaket doang,,gak pake baju die bos,,".

"ah,,yang bener lo Jo,,", si bos preman itu pun menutupi mulut Nurlela dengan tangan kirinya dan tangan kanannya bergerak menyusup ke dalam jaket Nurlela dan langsung meremas kencang payudara kiri Nurlela.

Ekspresi wajah Nurlela menunjukkan kalau Nurlela kesakitan akibat remasan kencang si bos preman di payudara kirinya. Preman yang memegangi kaki Nurlela tidak tahan hanya melihat kaki & paha Nurlela yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun. Jadi, preman itu mengelus-elus paha Nurlela dengan tangan kanannya. Lalu tangan preman itu terus bergerak hingga ke pangkal paha Nurlela.

"die juga gak pake celana dalem bos,,kayaknye die emang udeh siap buat dientot ni bos,,".

"yaude,,lepasin jaketnye, Jo,,biar ni cewek telanjang sekalian,,".

"oke bos,,". Ketiga preman itu jadi lengah sehingga otak Nurlela langsung bekerja untuk melepaskan diri dari 3 preman itu. Nurlela mendorong kepalanya ke belakang sehingga mengenai wajah si bos preman.

"aarrgghh,,", bos preman itu langsung menjauh dari Nurlela sambil memegangi hidungnya yang hampir patah karena terbentur bagian belakang dari kepala Nurlela. 1 preman sudah lepas, 2 more to go. Nurlela mengangkat kaki kanannya sehingga lutut Nurlela langsung menghantam dagu preman yang memegangi kakinya. Preman itu langsung jatu terjerembab ke belakang. Still 1 preman standing. Nurlela langsung meninju preman yang tadi ditugasi melucuti jaket Nurlela. Meski tinju Nurlela lemah, tapi mampu membuat preman itu juga jatuh ke belakang karena preman itu berjongkok dengan sedikit berjinjit. Nurlela pun langsung mengambil langkah 2 ribu menjauhi 3 preman yang sedang kesakitan sambil berteriak minta tolong. Ada orang keluar dari warung, Nurlela berlari ke arah orang itu, sambil berlari, Nurlela menarik resleting jaketnya ke atas lagi agar payudaranya tertutupi jaket.

"tolong pak,,saya mau diperkosa,,", kata Nurlela sambil berlindung di belakang orang itu.

"mana Dek,,yang mau merkosa,,", ujar orang itu sambil bertolak pinggang seperti jagoan. 3 preman itu muncul di hadapan abang pemilik warung dengan nafas mereka yang terengah-engah. Nurlela merasa sedikit tenang melihat si abang pemilik warung kelihatannya tidak gentar menghadapi 3 orang preman itu.

Tiba-tiba, trio preman itu langsung bergerak ke belakang si abang pemilik warung dan menangkap Nurlela.

"pak,,tolong saya,,", pinta Nurlela dengan wajah sedihnya. Abang pemilik warung itu menoleh ke belakang.

"ah,,parah lo betiga,,udah gue kasih minuman,,malah gak ngajak gue pas mau merkosa cewek,,", kata-kata yang keluar dari mulut si abang pemilik warung membuat Nurlela seperti tersamber petir.

"gimane mau ngajak lo Din,,die aje kabur,,".

"kok bisa kabur?".

"noh,,gara-gara si Tarjo buka jaketnye kelamaan,,".

"bukan salah gue bos,,gara-gara si Gusman,,megangin kakinye gak bener,,".

"enak aje,,lo,,bos Hari juga salah,,".


"udeh,,udeh,,mending,,kite mulai aje,,ngerjain ni cewek nyang kayak bidadari ini,,".

"bener juge ape kate lo,,Yo,,". Akhirnya, nama mereka terungkap juga. Si bos preman bernama Hari, si abang pemilik warung bernama Taryo, preman yang tadi memegangi kaki Nurlela bernama Gusman, dan preman yang terakhir bernama Tarjo.

"ngapain lo kabur tadi,,hah?!", sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Nurlela.

"udeh,,kite telanjangin aje nih cewek,,biar die kapok,,". Dalam waktu sekejap, jaket Nurlela sudah dibuang jauh-jauh oleh Hari.

"buset,,bodynye bohay banget,,", ujar Tarjo.

"liat tuh memeknye,,kayaknye,,masih perawan,,".

"berarti gue yang merawanin,,", kata Udin.

"enak aje lo, Din..gue bosnye disini,,", balas Hari.

"tapi,,ini kan warung gue,,", balas Udin tak mau kalah.

"yaude,,lo yang merawanin,,tapi kite gratis minum di warung lo satu minggu ye,,", kata Hari.

"sip dah,,nyang penting bisa merawanin cewek,,".

"jangan perkosa saya,,", pinta Nurlela, air matanya pun mengalir keluar.

"diem lo !! ntar lo juga enak,,", ejek Gusman.

"kite taro aje di bangku biar lebih enak,,", usul Tarjo.

"bener juga lo Jo,,". Tarjo & Gusman mengangkat tubuh Nurlela dan menaruh Nurlela di kursi panjang dari kayu yang biasa ada di warteg. Gusman & Tarjo mengangkat kaki Nurlela ke atas sehingga vagina Nurlela yang ada di tepi ujung bangku benar-benar terekspos dengan sangat jelas.

Hari duduk di ujung bangku yang satunya, dia memegangi kedua tangan Nurlela sambil menikmati kelembutan dari bibir Nurlela yang tipis dan lembut. Nurlela tau kalau dia tidak bisa melakukan perlawanan lagi karena kali ini dia benar-benar tidak berdaya. Nurlela tidak tau apa yang akan terjadi pada vaginanya karena pandangannya tertutupi leher Hari.

"gue jilat dulu ah,,pengen tau,,memeknye perawan manis ape nggak,,hehe,,", ujar Udin. Udin berjongkok di depan vagina Nurlela dan menatapi pemandangan indah di depannya bagai detektif yang memperhatikan dengan teliti untuk menemukan barang bukti.

"gak ade bulunye lagi,,jadi tambah napsu gue,,", kata Udin.

udeh,,cepetan lo Din,,ntar gantian,,", kata Hari lalu Hari melanjutkan melumat bibir Nurlela lagi.

"sabar nape lo,,". Udin mengelus-elus kedua paha mulus Nurlela hingga menyentuh pangkal paha Nurlela. Lalu Udin mendekatkan wajahnya ke vagina Nurlela. Udin semakin nafsu setelah melihat bentuk vagina Nurlela yang masih sempurna serta wangi alami dari vagina Nurlela yang dirawat dengan baik oleh Nurlela.

Udin menyapu belahan bibir vagina Nurlela dari bawah ke atas dengan sekali sapuan saja. Nurlela menggelinjang karena sapuan lidah Udin seperti sengatan listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya. Kemudian, Udin menggelitik klitoris Nurlela dengan lidahnya.


"mmmffhh,,", desah Nurlela tertahan bibir Hari. Gusman & Tarjo tidak hanya memegangi kaki Nurlela saja, tapi masing-masing dari mereka juga 'memegangi' dan meremasi payudara Nurlela. Udin membuka bibir vagina Nurlela sehingga dia bisa melihat bagian dalam dari vagina Nurlela yang terlihat sangat menggiurkan karena masih merah merekah. Lidah Udin sudah terselip di dalam lubang vagina Nurlela. Udin membenamkan kepalanya ke selangkangan Nurlela agar Udin bisa memasukkan lidahnya lebih dalam ke vagina Nurlela. Nurlela memang menolak, tapi dia tidak bisa menyangkal tubuhnya yang dengan senang hati menerima serangan lidah Udin.

"nnggffhh,,,", suara lenguhan Nurlela yang masih tertahan bibir Hari. Tubuh Nurlela menjadi tegang karena dia sedang mengalami orgasme.

"ssuurpp,,slluurrp,,", Udin tidak menyia-nyiakan satu tetes pun hingga cairan vagina Nurlela tak bersisa.

"gimane Din?", tanya Gusman.

"maknyus,,enak banget,,manis 'n gurih,,", jawab Udin.

"namanye juga memek perawan,,", ujar Tarjo.

"gantian lo Din,,", kata Hari.

"okeh,,". Hari & Udin bertukar posisi. Mereka bergantian menjilati vagina Nurlela hingga masing-masing mereka telah mencicipi cairan vagina Nurlela. Nurlela sudah pasrah karena tenaganya habis setelah 4x orgasme. Sekarang, Udin berhadapan dengan vagina Nurlela lagi dengan celananya yang sudah melorot sehingga penis Udin terbebas keluar dari sangkarnya.

"akhirnye,,****** gue bisa ngerasain memek perawan juga,,", ujar Udin. Udin sudah sangat bersemangat ingin segera menghujamkan penisnya ke dalam vagina Nurlela.

"hoi !!", teriak seseorang. 4 orang itu menengok ke arah sumber suara yang mereka dengar.

"siape lo?!", tanya Udin.

"jangan ganggu dia !!", teriak orang itu. Udin bergegas memakai celananya lagi.

"mao jadi jagoan lo?". Gusman & Tarjo melepaskan kaki Nurlela dan maju bersama Udin ke arah orang itu sementara Hari mengikat kaki & tangan Nurlela dengan tali rafiah yang Hari ambil dari warung Udin.

"lo semua,,jangan ganggu tuh cewek !!", kata orang itu.

"oh,,lo mao jadi jagoan lo yee,,", kata Hari yang bergabung dengan Udin, Gusman, dan Tarjo.

"nyari mati die,,kite matiin aje nih orang,,biar kite bisa ngentotin perawan,,".

"Gus,,Jo,,maju lo bedua,,hajar ampe mampus nih jagoan kemaleman,,", perintah Hari.

"oke bos,,", jawab Gusman & Tarjo maju mendekat ke orang itu. Gusman menyerang duluan, dia melayangkan tinju kanannya ke arah orang itu. Orang itu menangkis dengan tangan kanannya, lalu segera menendang perut Gusman dengan cepat. Meski hanya 1 kali tendangan, Gusman langsung sujud sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan. Tarjo menyerang orang itu dari belakang dengan melayangkan sebuah pukulan.

Tapi, dengan cekatan orang itu menghindar ke kiri lalu menggerakkan siku tangan kanannya untuk mengenai perut Tarjo. Tarjo langsung kesakitan karena hantaman siku orang itu begitu kuat. Orang itu langsung melakukan tendangan berputar ke belakang dan mengenai wajah Tarjo sehingga Tarjo langsung terlempar ke samping.

"sialan lo !!", Hari & Udin langsung maju menyerang orang itu. Tapi, orang itu melayangkan 2 jurus tendangan saja, Udin dan Hari langsung kesakitan.

"awas lo ye,,!!", ancem Hari sambil kabur. Udin, Gusman, dan Tarjo juga lari dengan sangat kencang. Orang itu mendekati Nurlela yang tidak berbusana dan tidak berdaya karena kaki & tangannya terikat ke bangku.

lo gak apa-apa?", kata orang itu sambil melepaskan ikatan di kaki dan tangan Nurlela.

"terima kasih,,", jawab Nurlela masih lemah.

"nih,,pake jaket gue,,", orang itu memakaikan jaketnya ke Nurlela setelah Nurlela duduk di bangku.

"terima kasih Mas,,".

"kenalin nama gue Eno,,".

"nama saya Nurlela,,".

Ternyata, Eno adalah sabuk hitam dalam Taekwondo sehingga tidak heran dia mengalahkan 4 orang tadi dengan sangat mudah meskipun wajah Eno tidak mendekati kata ganteng sedikit pun.

"ngapain lo malem-malem ada di luar?".

"saya baru dateng dari desa Mas,,".

"oh,,pantes aja,,mukanya masih lugu,,terus sekarang mana celana kamu? masa gak pake celana kayak gini,,".

"gak tau Mas,,".

"yaudah,,lo pake celana training gue aja,,", kata Eno menyerahkan celana trainingnya yang dia ambil dari dalam tasnya.

"makasih Mas,,".

"lo mau kemana sekarang?".

"mm,,saya mau ke rumah saudara saya,,", Nurlela berbohong.

"mau gue anter?".

"ah,,gak usah Mas,,saya jalan sendiri saja,,", Nurlela menolak tawaran dari Eno karena dia sudah tidak percaya kepada laki-laki.

"yaudah,,tapi gue anterin ke tempat yang lebih rame ya?".

"apa gak ngerepotin?".

"gak apa-apa,,yuk,,". Eno berjalan ke motornya yang diparkir agak jauh dari warung. Nurlela memakai celana training Eno sehingga akhirnya, vagina Nurlela tertutup juga.

Eno datang mendekati Nurlela dengan mengendarai motornya.

"ayo,,naik,,".

"iya Mas,,". Nurlela naik membonceng di belakang lalu Eno memacu motornya menjauhi warung itu menuju ke tempat yang lebih ramai.

"makasih ya Mas,,", Nurlela turun dari motor.

"lo gak pake alas kaki ya dari tadi?".

"iya,,Mas,,ilang,,".

"oh,,kalo gitu pake sendal gue aja,,nih,,".

"ntar Mas gimana?".


"udah,,gak apa-apa,,pake aja,,tapi beneran lo gak apa-apa jalan sendiri?".

"iya Mas,,gak apa-apa,,makasih banyak udah nyelametin saya Mas,,".

"yaudah deh,,gue duluan ya,,ati-ati lo,,". Eno pun pergi meninggalkan Nurlela karena dia ada urusan penting. Nurlela berjalan sendiri lagi, tapi kali ini dia memakai celana untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan sendal untuk melindungi kakinya. Tenaga Nurlela tinggal seperempat saja sehingga Nurlela hanya mengikuti kakinya tanpa tau arah & tujuan. Kakinya membawa Nurlela ke sebuah komplek perumahan yang lumayan elit. Seperti komplek lainnya, ada pos satpam dan portal sebelum masuk ke komplek, tapi kelihatannya satpamnya sedang tidak ada.

Cerita Dewasa : Nurlela masuk ke daerah komplek itu dengan langkah gontai karena dia sudah sangat lemas. Battery empty, please recharge. Tenaga Nurlela sudah benar-benar tidak tersisa lagi kali ini sehingga Nurlela jatuh pingsan di depan sebuah rumah yang besar. Dengan mata yang samar-samar, Nurlela melihat ada seseorang yang mengangkat tubuhnya. Setelah itu, Nurlela sudah tak sadarkan diri. Saat bangun, Nurlela sudah berada di atas ranjang yang sangat empuk. Dia meregangkan tubuhnya alias ngulet. Battery full. Badan Nurlela sudah benar-benar segar sehabis tidur sehingga Nurlela memutuskan untuk bangun dari ranjang. Kamar itu begitu besar, luas, dan penuh dengan barang yang keliatannya mahal. Nurlela tidak berani menyentuh apa-apa karena takut ada yang pecah. Nurlela berjalan menuju ke pintu kamar yang sangat besar. Nurlela membuka pintu kamar itu dan berjalan keluar dari kamar. Nurlela menjelajahi rumah yang lumayan besar itu dan mencari si pemilik rumah yang mungkin tadi telah membawanya masuk ke dalam rumah.


Tapi, meski dicari kemana-mana, Nurlela tidak menemukan siapa-siapa di rumah itu. Jadi, Nurlela hanya duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tiba-tiba Nurlela mendengar suara pintu terbuka. Seorang bapak masuk ke dalam ruang tamu.


"eh,,kamu udah bangun?".

"bapak siapa?", tanya Nurlela ketakutan.

"nama bapak,,Dirman,,kamu?".

"nama saya Nurlela,,kenapa saya ada disini?".

"tadi kamu pingsan di depan rumah bapak,,jadi bapak bawa kamu ke dalem rumah,,".

"maaf,,saya ngerepotin bapak,,".

"kenapa nak Nurlela bisa pingsan?".

"saya kesasar,,".

"oh,,kalo gitu,,nak Nurlela tinggal disini aja dulu,,".

"aduh,,maap pak,,saya gak mau ngerepotin,,".

"gak apa-apa,,pasti kamu lapar,,udah lah,,malem ini nak Nurlela tinggal disini dulu,,".

"tapi kalau saya tinggal disini,,apa istri bapak gak apa-apa?".

"oh,,nak Nurlela tenang saja,,istri bapak sudah gak ada,,".

"oh,,maap Pak,,saya gak bermaksud,,".

"ah,,gak apa-apa,,ayo nak Nurlela,,kita makan,,".

"gak usah Pak,,".


"kruukk,,,~~", bunyi dari perut Nurlela yang keroncongan membuat Nurlela tersipu malu.

"tuh kan,,udah ayo kita makan,,", Pak Dirman menarik tangan kanan Nurlela dan membawanya ke ruang makan. Sambil berjalan ke ruang makan, pikiran Nurlela bercabang menjadi 2. Yang satu, Nurlela deg-degan dan khawatir dengan Pak Dirman yang duda karena Nurlela teringat kejadian bersama ayah angkatnya. Sedangkan, pikiran Nurlela yang lain mengatakan kalau dia pergi malam ini, dia bakal kelaparan dan mungkin dia akan diperkosa oleh preman-preman yang sedang mabok. Jadi, Nurlela telah memilih untuk tinggal di rumah itu untuk semalam.

"gue nginep disini dulu deh,,kayaknya ni bapak gak punya pikiran macem-macem,,", pikir Nurlela. Pak Dirman memang terlihat seperti bapak yang baik, tapi who knows?.

"makanan sudah siap Pak,,", sapa orang yang ada di dekat meja makan.

"oh,,makasih To,,kamu sudah makan, To?".

"saya mah gampang, Pak,,saya permisi dulu ke belakang ya Pak,,".

Parto berjalan keluar dari dapur.

"ayo,,nak Nurlela,,mari makan,,".

"gak apa-apa nih Pak Dirman?".

"gak apa-apa,,hayo cepet,,mumpung masih anget,,". Pak Dirman duduk lebih dulu, disusul Nurlela yang masih agak malu-malu duduk di meja makan.

"ayo Nurlela,,gak usah malu-malu,,ayo makan,,".

"iya Pak,,". Pak Dirman mulai mengambil makanan sedangkan Nurlela hanya sedikit mengambil makanan karena Nurlela masih agak malu-malu.

"mm,,Pak Dirman,,saya boleh numpang ke kamar kecil?".

"oh boleh,,nak Nurlela terus aja terus belok kiri,,nah ruangan yang ada di kanan,,itu wc,,".

"makasih Pak,,saya permisi dulu,,".

"oh ya,,ya,,silakan,,". Nurlela mengikuti arahan petunjuk dari Pak Dirman sehingga dia bisa menemukan kamar mandi. Setelah buang air kecil, Nurlela mencuci tangannya di wastafel sambil menatap kaca yang ada di depannya. Nurlela melihat bayangan seorang gadis berparas cantik dengan kulit wajah putih merona. Bayangan itu tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.

Damn, my beautiful face. Nurlela berpikir kalau saja wajahnya tidak cantik mungkin hidupnya tidak seperti sekarang, mungkin dia akan hidup bahagia. Tapi, apa mau dikata. Wajah tidak bisa diganti, operasi plastik tidak mungkin Nurlela lakukan karena kantongnya hanya berisi angin saja alias boke'. Nurlela kembali lagi ke ruang makan dan duduk kembali di bangkunya.

"ayo nak Nurlela,,makan lagi,,".


"aduh,,saya udah kenyang Pak,,", kata Nurlela sambil meminum sisa air minumnya.

"bener nak Nurlela udah kenyang? gak mau nambah?".

"makasih,,Pak,,saya udah kenyang banget,,", Nurlela merasa matanya berat sekali dan mati-matian melawan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.

"padahal gue baru tidur,,kenapa gue udah ngantuk lagi?", tanya Nurlela dalam hati. Nurlela mengucek-ngucek matanya.

"kenapa? nak Nurlela ngantuk?".

"iya nih Pak,,padahal saya baru istirahat,,".

"ya sudah,,Parto !!", Pak Dirman memanggil Parto. Dalam waktu sebentar, Parto sudah datang.

"ada apa Pak?".

"tolong antarkan Nurlela ke kamarnya,,".

"baik, Pak,,".

"mari,,nona Nurlela,,saya tunjukkan kamarnya,,".

"terima kasih Mas Parto,,Pak Dirman,,maaf,,saya tidur duluan,,".

"oh,,ya,,gak apa-apa,,nak Nurlela emang harus istirahat,,".

"saya permisi dulu ya Pak Dirman,,makasih banget,,udah bolehin saya makan,,".

"udah,,nak Nurlela istirahat sana,,". Nurlela berjalan di belakang Parto menuju ke kamarnya.

"disini,,kamarnya nona,,", Parto membuka pintu sebuah kamar yang dalamnya lumayan mewah.

"terima kasih,,Mas Parto,,". Nurlela masuk ke dalam kamarnya sementara Parto pergi meninggalkan Nurlela.


"akhirnya,,", baru saja Nurlela mengambrukkan tubuhnya ke kasur, dia langsung tertidur. Ternyata, ada yang memasukkan obat tidur ke dalam minuman Nurlela. Obat tidur itu bereaksi dengan cepat, namun hanya sebentar membuat orang tertidur mungkin hanya 1-2 jam saja. Nurlela terbangun dan menyadari kalau dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kaki & tangannya. Tangan Nurlela terikat ke tiang ranjang dan kaki Nurlela terikat ke tiang ranjang yang lain sehingga kini, Nurlela dalam posisi X.


"tolong,,!!", teriak Nurlela kencang. Seseorang langsung masuk ke dalam kamar Nurlela.

"tolong saya,,Pak Dirman", pinta Nurlela dengan cemas. Pak Dirman mendekat ke arah Nurlela yang telanjang dan terikat ke ranjang.

"tolo,,", Nurlela berhenti meminta tolong ke Pak Dirman karena dia melihat Pak Dirman tersenyum licik dan tatapan matanya bagai srigala lapar.

"tol,,mmffhh,,", mulut Nurlela langsung dibukam oleh Pak Dirman.

"gak nyangka,,malem-malem,,dapet rejeki nomplok,,". Pak Dirman naik ke atas ranjang dan duduk di depan selangkangan Nurlela yang terbuka lebar. Pak Dirman menindih tubuh Nurlela lalu Pak Dirman melepaskan bungkaman di mulut Nurlela. Kemuan Pak Dirman langsung membungkam mulut Nurlela lagi, tapi kali ini dengan mulutnya. Pak Dirman mengulum bibir atas dan bibir bawah Nurlela. Lalu Pak Dirman melumat bibir Nurlela habis-habisan sambil terus memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Nurlela. Nurlela sadar dia tidak bisa melawan seperti kejadian-kejadian sebelumnya sehingga Nurlela sudah pasrah apa yang akan terjadi nantinya.


Pak Dirman benar-benar mencumbu Nurlela sepuas-puasnya karena Pak Dirman terus melumat bibir Nurlela dengan sangat bernafsu. Setelah puas menikmati bibir Nurlela, Pak Dirman bangkit dari atas tubuh Nurlela.

"badan kamu Gusman banget,,".

"tolonngg !!".

"percuma kamu minta tolong,,mending kamu pasrah aja,,". Pak Dirman mencengkram kedua buah payudara Nurlela yang bentuknya sangat indah itu. Pak Dirman meremas-remas kedua buah payudara Nurlela sambil sesekali mencubit payudara Nurlela. Lalu Pak Dirman mendekatkan wajahnya ke payudara Nurlela, dia mulai menciumi, menggigiti, mencupangi, dan menjilati kedua buah payudara Nurlela beserta putingnya.

"oouuummhh,,", sebuah desahan keluar dari mulut Nurlela. Wajah Nurlela merah seperti kepiting rebus karena dia tidak bisa menahan malu, tadi dia menolak mati-matian, tapi kini dia malah mengeluarkan desahan karena Nurlela tidak bisa mengingkari betapa nikmatnya lidah Pak Dirman yang menari-nari di payudaranya.

Pak Dirman menurunkan ciumannya ke perut Nurlela. Pak Dirman mencucuk-cucukkan lidahnya ke pusar Nurlela. Lalu Pak Dirman menciumi perut Nurlela terus ke bawah hingga akhirnya sampai juga di lembah kenikmatan milik Nurlela.

"wangi,,wangi sekali,,", komentar Pak Dirman setelah dia menghirup aroma wangi yang semerbak di daerah selangkangan Nurlela. Pak Dirman turun dari ranjang, dia membuka ikatan kaki kiri Nurlela lalu Pak Dirman mengikat kaki kiri Nurlela lebih tinggi lagi kemudian Pak Dirman juga melakukan hal yang sama ke kaki kanan Nurlela sehingga sekarang kaki Nurlela menjulang ke atas bagai huruf V.

"nah,,kalo gini kan lebih gampang,,". Pak Dirman naik lagi ke atas ranjang dan posisi kepalanya sudah berada di antara paha putih nan mulus Nurlela. Pak Dirman memulai dengan mengecup klitoris Nurlela berulang kali sehingga sebagai respon, tubuh Nurlela menggelinjang.

"sekarang enak kan? makanya,,kamu gak usah ngelawan lagi,,", ejek Pak Dirman.

Nurlela merasa seperti wanita murahan karena dia begitu menikmati lidah Pak Dirman yang sekarang sudah menjelajahi sekitar vaginanya.

"mmmhhh,,", desah Nurlela pelan. Pak Dirman melebarkan kedua bibir vagina Nurlela sehingga Pak Dirman bisa melihat bagian dalam dari vagina Nurlela yang masih terlihat merah menggoda.

"jangan-jangan kamu masih perawan ya? beruntungnya malem ini,,". Lidah Pak Dirman sudah mengaduk-aduk liang vagina Nurlela.

"ooohhhh,,!!", erang Nurlela mendapatkan orgasmenya. Pak Dirman tidak percaya dengan rasa cairan vagina Nurlela. Manis, gurih, dan sedikit rasa asin tercampur dengan komposisi yang sangat pas sehingga Pak Dirman mengais-ngais sisa cairan vagina Nurlela hingga tak ada sisa setetes pun. Tonjolan di celana Pak Dirman sudah sangat besar yang menandakan kalau Pak Dirman sudah horny berat. Pak Dirman langsung melucuti pakaian dan celananya sendiri sampai perutnya yang buncit bisa dilihat oleh Nurlela. Nurlela sangat kaget melihat apa yang mengacung tegak di bawah perut Pak Dirman.


Penis pertama yang Nurlela lihat adalah penis ayah angkatnya, dan penis Pak Dirman lebih besar.

"jangan,,", lirih Nurlela pelan. Pak Dirman tidak mengindahkan Nurlela, Pak Dirman malah sudah bersiap-siap mencoblos vagina Nurlela. Kepala penis Pak Dirman sudah berada di depan lubang vagina Nurlela.

"tidaakk,,!!", teriak Nurlela dengan suaranya yang lemah lembut. Air mata Nurlela mengalir dari kedua matanya karena Nurlela tau kalau keperawanannya sudah tak terselamatkan lagi karena dia tidak bisa melakukan perlawanan. Pak Dirman mendorong penisnya ke dalam vagina Nurlela. Perlahan tapi pasti, penis Pak Dirman menyusup masuk ke dalam vagina Nurlela.

"uugghh,,sempithh,,", celoteh Pak Dirman sambil menekan penisnya ke dalam vagina Nurlela yang sangat kuat menjepit penis Pak Dirman karena vagina Nurlela masih sempit dan rapet..pet..pet. Good bye virginity, welcome paradise. Nurlela merasakan ada yang robek di dalam vaginanya.

"nngghh,,,", Nurlela terus menangis sambil meringis kesakitan yang luar biasa karena Nurlela merasakan vaginanya seperti terbakar dan melebar hingga semaksimal mungkin. Penis Pak Dirman sudah sepenuhnya berada di dalam vagina Nurlela, Pak Dirman merasakan liang vagina Nurlela memijit & menjepit penisnya dengan sangat kuat.

"oohh,,enak banget,,", desah Pak Dirman. Lalu Pak Dirman melihat ke arah penisnya, ada sedikit darah yang menyelip keluar dari vagina Nurlela.

"ternyata,,kamu bener-bener masih perawan ya,,gak nyangka,,saya beruntung banget malam ini,,". Nurlela hanya menangis saja.

"kalo gitu,,maennya pelan-pelan aja ya,,". Pak Dirman mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan sangat pelan.

"heenngghh,,", Nurlela masih merasakan pedih sekaligus sedih. Sekarang penis Pak Dirman keluar masuk vagina Nurlela lebih cepat dari sebelumnya dan terus bertambah cepat hingga mungkin 8 kali/detik. Sambil mengaduk-aduk vagina Nurlela yang luar biasa sempit itu, Pak Dirman membelai kedua buah payudara Nurlela dengan lidahnya.


"uummmhhh,,", Nurlela mendesah karena rasa pedih yang dia rasakan sudah hilang sehingga hanya tinggal rasa nikmat saja yang Nurlela rasakan. Air mata Nurlela pun sudah tidak keluar lagi karena mata Nurlela sudah kering.

"nah,,mulai enak ya?", ejek Pak Dirman melihat Nurlela yang mulai keenakan. Rasa malu dan hina menyerang Nurlela sehingga Nurlela menolehkan kepalanya ke kiri dan menutup matanya, tapi Nurlela tidak bisa berhenti mendesah karena itu adalah lolongan jiwanya. Pak Dirman menciumi leher Nurlela membuat Nurlela merinding karena geli.

"aaahhh,,", aliran listrik menjalar di sekujur tubuh Nurlela yang menandakan kalau dia sudah mencapai orgasme pertamanya.

"ccppllkk,,ccppllkk,,", suara penis Pak Dirman yang keluar masuk vagina Nurlela yang kini sudah becek gara-gara cairan vagina Nurlela sendiri. Jepitan vagina Nurlela dan rasa hangat dari cairan vagina Nurlela membuat Pak Dirman betah membiarkan penisnya berlama-lama di dalam vagina Nurlela sehingga Pak Dirman menggenjot vagina Nurlela dengan tempo yang lambat.


"ooohh,,yeesshh,,", erang Pak Dirman karena dia sedang menembaki rahim Nurlela dengan spermanya. Pak Dirman benar-benar puas menikmati permainannya dengan Nurlela yang baru saja selesai. Meskipun berkeringat, tapi tubuh Nurlela tetap mengeluarkan aroma wangi yang enak untuk dihirup.

"ploop,,", Pak Dirman mencabut penisnya dari vagina Nurlela. Cairan merah muda langsung meleleh keluar dari vagina Nurlela. Cairan merah muda itu dihasilkan dari campuran darah keperawanan Nurlela, cairan vagina Nurlela, dan sperma Pak Dirman yang tercampur dengan rata di dalam vagina Nurlela.

"wah,,udah jam 2 malem,,besok harus bangun pagi,,kita lanjutin besok ya,,hehe", kata Pak Dirman sambil mencubit pipi Nurlela yang halus itu. Lalu Pak Dirman meninggalkan Nurlela yang masih terikat ke ranjang. Nurlela menangis lagi karena keperawanannya baru saja direnggut oleh Pak Dirman, orang yang baru saja dia kenal, mending kalau ganteng, wajah Pak Dirman sama sekali tidak ada sisi Gusmannya.


Pak Dirman kembali lagi ke kamar Nurlela.

"saya lupa,,". Pak Dirman memegang dildo yang besar di tangan kanannya dan memegang lakban serta gunting di tangan kirinya. Pak Dirman mendekat ke Nurlela, lalu Pak Dirman menancapkan dildo ke vagina Nurlela.

"nnghh,,", Nurlela menahan pedih karena dildo itu lumayan besar. Batang dildo itu sudah tertanam di dalam vagina Nurlela, lalu Pak Dirman menekan tombol on yang ada di pangkal dildo.

"mmmhhh,,", Nurlela mendesah ketika dildo itu mulai bergerak-gerak dan berputar-putar di dalam vaginanya. Pak Dirman menutupi pegangan dildo itu dengan lakban secara horizontal & vertical sehingga membentuk tanda '+'.


"selamat tidur ya,,bidadari cantik,,hehe,,", Pak Dirman meninggalkan Nurlela yang terikat ke ranjang dengan dildo yang mengobok-obok vagina Nurlela. Orgasme demi orgasme Nurlela dapatkan dari dildo yang terus mengobok-obok vaginanya semalaman sampai-sampai tenaga Nurlela habis sehingga Nurlela pun pingsan.


Kamis, 08 November 2018

Cerita Sex: Ngentot Dengan Perawat Yang Baru Lulus SMU


Bandar Judi: Aku tinggal ma satu keluarga yang terdiri dari bapak ibu dan seorang anak yang masih balita. Bersama keluarga itu tinggallah kakek dari si ibu, yang sudah uzur. Untuk membantu merawatnya, keluarga itu memperkerjakan seorang perawat, amoy, masi abg dan cantik. Senenag aku melihat Fang-fang, begitu nama amoy yang perawat itu. Fang-fang baru lulus smu setahun yang lalu, karena tidak mempunyai dana untuk melanjutkan sekolah, dia bekerja sebagai perawat manula.

Dia ikut kursus singkat bagaimana merawat manula dan kemudian bekerja di keluarga itu. Rumah yang aku tinggali terdiri dari 2 bangunan, bangunan utama tempat keluarga itu tinggal, dan bangunan laennya merupakan annex dari bangunan utama, disitu ada gudang, dapur dan 2 kamar yang lumayan besarnya. Aku mondok disalahsatu kamar dan Fang-fang tidur dikamar sebelah kamarku. Sudah beberapa kali aku ngintip Fang-fang ketika dia abis mandi. Dari jendelanya yang tidak tertutup korden dengan sempurna aku sudah beberapa kali memandang penuh napsu ke body Fang-fang yang putih mulus seperti lazimnya kulit amoy, toketnya sempurna bentuknya, gak besar si, tapi gak juga tocil, dihiasi dengan pentil imut berwarna pink, pertanda belum sering diemut lelaki. Kalo toh Fang-fang dah gak perawan, paling dia baru beberapa kali ngerasain kemasukan kontol di memeknya. Perutnya rata dengan puser yang berbentuk segaris, dan jembutnya lebat juga, rapi menutupi daerah memeknya.

Pernah satu malem, aku pulang terlambat, kudengar erangan dari kamar Fang-fang, ketika kuintip, Fang-fang sedang telentang telanjang bulet, tangan satunya meremas toketnya sembari memlintir pentilnya sedang tangan satunya sedang mengilik it ilnya sendiri. Wah napsuku melonjank drastis, kon tolku langsung keras, tetapi aku belum berani melakukan lebih jauh dari sekadar ngintip terus, akhirnya aku gak tahan. aku masuk ke kamarku sendiri dan mengocok kon tolku abis2an sembari membayangkan sedang ngen totin Fang-fang sampe akhirnya pejuku muncrat dengan derasnya.

Ketika aku keluar kamar, kulihat kamar Fang-fang sudah gelap, rupanya dia sudah selesai mengilik dirinya sendiri, gak tau klimax atu enggak. Esok harinya, aku berusaha nanya ke Fang-fang, “Fang, semalem kamu sakit ya”. “Enggak kok mas”, dia memanggilku mas. “Aku denger kamu merintih2 kok”. Fang-fang kulihat merah mukanya, “Gak apa kok mas”, sembari menghindar supaya aku gak bertanya lebih jauh. “Kok malu si Fang, mangnya semalem kamu ngapain, aku tau lo kamu ngapain”, gangguku. “Mas ngintipin Fang-fang ya”, katanya malu. “Abis rintihan kamu bukan rintihan sakit si”. “Abis rintihan apa”. “Rintihan berahi, lagi napsu ya Fang, kok gak ngajak2 si kalo lagi horny”, kataku to the point. “Fang”, terdengar panggilan dari rumah induk. “Opa manggil fang-fang mas”, katanya sambil meninggalkan aku. Saved by the bell.

Malemnya, Fang-fang papasan ma aku ketika dia mo kembali ke kamarnya. “Mo merintih lagi Fang”, godaku. “Ah mas nggodain Fang-fang aja nih, kan malu, mana diintip lagi”. “Abis kedengaran, aku kira kamu sakit, gak taunya lagi nikmat. Kok dadakan ngilik sih”. “abis liat mas tlanjang”. “Hah”, sekarang aku terkaget2 rupanya dia juga ngintipin aku kalo aku dikamar tlanjang dan ngocok ndiri. Pantes aku suka denger kresek, sampe aku kirain ada tikus, gak taunya Fang-fang yang ngintip lewat koredn yang gak rapet. “satu sama dong”, kataku lagi. “Daripada kamu ngintip gak jelas, aku mau kok kasi liat ma kamu. Mau liat gak”. “Mas punya besar ya, panjang lagi”.

“Memangnya kamu dah perna liat punya lelaki laen”. “Cowok Fang-fang dulu”. “Besar gak”. “Besaran dan panjangan punya mas”. “Sekarang masi?” “Udah enggak, padahal aku dah kasi nikmat ma dia, dia malah ninggalin aku ma cewek yang lebi montok dari aku”. “Kasian deh, dah jadi cewek aku aja ya, aku tipe lelaki setia kok”. “Setia apanya, suka ngintipin orang kok setia”. Aku cuma tertawa mendengarnya. “Kamu suka mijet si kakek kan, aku mau dong dipijetin”. “Mas pengen dipijet ato mo mijet Fang-fang”. Dua2nya, pijetin aku ya, pegel2 nih badan”. “Iya deh, tapi cuma mijetin aja yah”. Aku menggangguk.

Kuajak dia masuk kekamarku, pintu kututup. aku masuk kamar mandi dan melepaskan semua yang nempel dibadanku. kon tolku dah tegak keras banget, napsuku dah sampe diubun2, pokoknya malem ini aku harus nikmati Fang-fang, kayanya dia juga gak keberatan kok ngen tot ma aku. Aku keluar dari kamar mandi dengan membelitkan handuk di pinggang, “Kamu gak buka baju Fang, ntar keringatan”. Fang-fang hanya mengenakan tank top dan celana pendek ketika itu. “Ntar mas napsu lagi kalo Fang-fang buka baju, gini aja gak apa ya mas”. “Ya terserah kamu ja, kan gak enak kalo kringeten”. Aku menelungkup didipan. Dia mulai memijat pahaku. Pijatannya makin keatas, sampai batas handuk, kemudian langsung ke pinggang, terus sampe ke pundak. Setelah selesaidia melap badanku dengan anduk basah. “Depannya enggak Fang, sekalian aja”, pintaku sambil membalikkan badan.

Dia terkejut ketika aku sudah berbaring telentang, kon tolku nongol dari lipatan handuki. kon tolku besar dan panjang dan sudah keras banget. “Ih mas, kok ngaceng sih”, katanya genit. “Berdua sama cewek cakep dan seksi kaya kamu, mana bisa nahan napsu. Remes kon tolku aja ya Fang”, kataku sambil menarik tangannya dan kuarahkan ke kon tolku. Dia menurut saja, langsung kulepas lipatan handukku, sehingga terbukalah akses ke kon tolku. Diremes dan dikocok pelan, “mas besar banget kon tolnya, panjang lagi. Ngacengnya keras banget”. napsunya bangkit juga, sehingga kocokannya makin cepat. Aku segera duduk dan memeluknya. Bibirnya langsung kucium. “Fang, dilepas ya baju kamu, aku dah kepengen gantian mijit kamu ni”. “Janjinya enggak kan mas”. Kembali bibirnya kucium dengan ganas, sementara tanganku mulai mengelus2 toketnya. “Fang dibuka ya bajunya, aku pengen meremes langsung toket kamu”. Tanpa menunggu jawabannya, aku melepas tanktopnya. Fang-fang mengangkat tangannya keatas untuk mempermudah aku melepaskan tank topnya. Kemudian giliran celana pendeknya yang aku selorotkan. aku membelalak melihat bodinya yang hanya terbungkus bra dan cd, “Fang, kamu napsuin sekali”.


Lampu kamar segera kupadamkan. Yang menyala sekarang hanya lampu tidur yang temaram. Biar lebih romantis. Aku segera membaringkan tubuhnya disampingku. Dia menggeliat dan menghadap ke arahku. Aku menggeser badanku mendekati dia. kon tolku langsung melonjak begitu bersentuhan dengan lengannya. Dia berbaring diam di sampingku. Tiba-tiba dia memeluk dadaku. “Kenapa Fang, dingin yaaa……..”, kataku, aku meluncurkan tangan kiriku ke atas kepalanya. Dengan reflek dia mengangkat kepalanya dan tanganku jadi memeluk kepalanya. Dengan manja dia menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku. Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Kuciumi rambut dan kepalanya dengan lembut. Aku semakin mempererat pelukannya dan melingkarkan kakiku ke pahanya. Sehingga pahanya menyentuh kon tolku. “mas…”, desahnya sambil menengadahkan wajahnya ke wajahku. Aku segera memagut bibirnya. Lama bibir kami berpagutan.

Kami sampai terengah-engah karena terlalu bersemangatnya berciuman. Kami berhenti berciuman karena sudah tidak bisa bernafas lagi. Setelah menarik nafas sebanyak-banyaknya, kami saling berpandangan, dan tersenyum. Aku kembali merenggut lengannya dan cepat memagut bibirnya. Dia melayani cumbuanku. Aku melepas branya dan meremas-remas toketnya . Dia mendengus-dengus dan seperti kejang-kejang waktu aku memlelintir pentilnya. Aku kembali memagut bibirnya. Dia menggeliat-geliat. Kuciumi toketnya. Dia agak menggeliat. Kemudian aku mulai menjilati toketnya, memutari toketnya bergantian. Kuselingi dengan gigitan-gigitan kecil. Kemudian kusedot pentilnya sambil kugigit pelan. Dia kembali menggeliat sambil mengangkat pantatnya. Aku menggapai cdnya dan kupelorotkan ke bawah.

Sambil tetap menggigit dan mengisap pentilnya, aku menggunakan kaki kananku untuk menurunkan cdnya sampai terlepas sama sekali. Kemudian kuusap me meknya yang dilingkari jembut yang lebat. Aku mengangkat kepalaku untuk lebih jelas melihat me meknya. Kemudian aku mengulum pentilnya. Kemudian jilatanku mulai turun ke arah perutnya. Dia agak meregang waktu lidahku menelusuri permukaan kulitnya dari mulai pentil sampai ke arah pusernya. Kemudian aku kembali memandangi me meknya. Aku duduk langsung menghadap me meknya. “Fang, jembut kamu lebat, pasti napsu kamu besar ya. Kamu gak puas kan kalo cuma dien tot seronde”, kataku sambil mendekatkan wajahku ke me meknya. Dia hanya mendesah saja. Pelan kucium me meknya. Dia menggeliat. Kemudian kujilat dengan lembut sekitar bibir me meknya. Dia mengangkat pantatnya sambil berpegangan pada sepre sambil mendesah, “aaaaaaahhhhhh..”. Aku kemudian menciumi pahanya. Dia melonjak-lonjakan pantatnya beberapa kali. Setelah agak lama menciumi pangkal paha sampat lututnya, aku mulai mengarahkan jilatan pada me meknya. Aku menjilati bibir me meknya. Dia menggelinjang dan mendesah, “auuhhhhhhhhh…….”. Kubuka sedikit bibir me meknya yang sudah basah kuyup, dan segera menjilat it ilnya, “AAAGGGHHHHHHHH……..!!!!!!”, lenguhnya keras dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Kumasukkan lidahku ke dalam me mek nya kemudian kuputar-putar dengan tekanan yang kuat ke sekeliling me meknya.

Dia semakin bernapsu. Dijambaknya rambutku sambil menekan kepalaku semakin keras ke arah me meknya. Sesekali aku menggigit it ilnya diselingi dengan sedotan. Napasnya makin tidak beraturan. Dia mendesah-desah dan kadang-kadang menjerit kecil, terutama pada saat it ilnya kugigit-gigit. Akhirnya, kedua kakinya menjepit kepalaku dengan kuat sekali. Kedua tangannya juga menekan kepalaku sekuat tenaga sehingga hidungku pun tenggelam dalam bukit me meknya. Dia mengerang dan menggelinjang. Aku menyedot me meknya sambil menggigit it ilnya terus. Dia terhempas ke kasur dengan mengeluarkan suara dengusan yang kuat. Aku terbebas dari jepitan kakinya. Aku terengah-engah sedang dia tergeletak lemas. Kucium sekali lagi me meknya. dia hanya tersenyum, “mas, luar biasa deh lidahnya, pake lidah saja Fang-fang sudah nyampe, apalagi pake kon tol besar mas ya”.

aku cuma tersenyum dan turun dari tempat tidur mencari handuk untuk melap mulut dan muka yang berlepotan cairan me meknya. Setelah melap muka , aku kembali ke tempat tidur. Belum sempat naik ke ranjang, dia sudah menyambutku dengan pelukan dan ciuman. Sekarang gilirannya menciumi leher, dada dan pentilku. Lidahnya berputar-putar disekitar pentilku. Kemudian dia mulai menyedot-nyedot dan menggigit-gigit kecil pentilku. Aku jadi keenakan. Dia meluncur kebagian bawah. Dielusnya kon tolku mulai dari pangkal sampai kekepalanya. Kemudian sambil berjongkok, dijilatinya kepala kon tolku. Diputari dengan lidah. Digigit kecil dan dijilati.

Lama-lama aku tak tahan berdiri kuperlakukan begitu. Akupun duduk di tepi tempat tidur. Dia kembali menjilati kon tolku, dari kepala, batang sampai ke bijinya. Aku jadi merem melek dan mendesah keenakan. Kemudian kepalanya diemutnya. Lidahnya menjilati kepalanya yang sudah masuk mulutnya. Aku sampai bergetar menahan rasa geli-geli nikmat itu. Dan kemudian dengan keras dia menyedot kon tolku. Aku menjepit kepalanya dengan kedua kaki.

Aku nggak mau kalau sampai ngecret ketika kuemut. Aku berdiri dan menariknya berdiri juga. Aku memeluknya dan mencium bibirnya dengan mesra. “Luar biasa kamu, Fang”, bisikku. Dia cuma tersenyum manja. Akupun membaringkannya di ranjang. Pantatnya kuganjal bantal. “Buat apa mas, kan kon tol mas panjang, masuknya pasti dalem”, tanyanya. Aku diam saja.

Karena diganjal. me meknya jadi merekah. Aku menjilati me meknya sekali lagi. Dia menggeliat waktu lidahku masuk ke me meknya dan menyentuh it ilnya. Kemudian aku menaiki tubuhnya dan kon tol kutempelkannya di bibir me meknya. Kudorong kepala kon tolku dengan jari supaya masuk ke me meknya. Dia mendesah waktu kepala kon tolku memasuki me meknya. Kemudian aku menggerakkan sedikit maju mundur sehingga dengan pelan tapi pasti seluruh kon tolku terbenam di me meknya. Dia mendesah dan berpegangan erat pada sprei. Setelah kon tolku masuk semua, aku menciumi bibirnya, kemudian agak membungkukkan badanku untuk mengemut pentilnya. “Siap, Fang?”, tanyaku. “Hmmmm..”, dia mengangguk kecil dan tersenyum.

Aku meletakkan kedua tanganku di samping bahunya seperti orang push up. Kemudian pelan-pelan mulai mengangkat pantatku. Setengah kon tolku keluar, kemudian kudorong lagi. Semakin lama gerakan naik turun semakin cepat. toketnya terguncang-guncang waktu aku melakukan gerakan memompa ini. Dengan gemas aku mencium, menyedot dan menggigit pentilnya juga. Dia mengimbangi gerakanku dengan memutar pantatnya seirama dengan gerakan pantatku naik turun. Terasa sekali kon tolku seperti mengaduk-aduk me meknya. me meknya sesekali dikejang2kan memijat kon tolku yang sedang keluar masuk dengan cepat.

Kemudian akupun menegakkan tubuh dengan posisi berdiri di atas lutut. Untuk keseimbangan, aku membuka kakinya lebar-lebar. Sambil berpegangan pada pahanya, akupun memberikan pijatan-pijatan berputar di pangkal paha sampai daerah sekitar me meknya. Dia menjadi mendengus keenakan. Gerakan putaran pantatnya jadi semakin liar. Dengan posisi ini aku bisa memandangi dengan leluasa keluar masuknya kon tolku di me meknya. Kadang-kadang aku merendahkan pantatku sehingga sodokan di bagian atas dinding me meknya lebih terasa. Dia mulai menceracau, gerakan pantatnya sudah mulai melonjak-lonjak tak karuan, aku sengaja menghentikan gerakan maju mundurku. Setelah pantatnya gerakannya pelahan lagi, aku tarik pelan-pelan kon tolku dan kemudian memberikan sodokan yang cepat ke me meknya. Pantatnya langsung melonjak dan berputar lagi dengan keras. Setiap aku menarik kon tolku, terasa bibir me meknya ikut tertarik keluar. Tapi begitu aku menyodokkan kon tolku, bibir me meknya terasa melipat ke dalam dan seperti menelan kon tolku.


Setengah jam kemudian, badanku sudah basah oleh keringat. Kadang-kadang dia mengangkat badannya, menciumku dan kemudian menjatuhkan badannya lagi. Yang jelas sprei tempat tidur sudah tidak beraturan lagi. Dia masih mengelinjang-gelinjang menikmati sodokan-sodokan kon tolku. Akhirnya, dia merenggut leherku dan mendekapnya dengan kuat. Kakinya juga menjepit pinggangkua kuat sekali, sambil mendesah “aaagggghhhhhhh”. Akupun tidak menunggu lebih lama lagi. Segera kujatuhkannya badannya ke kasur dan kupeluk dengan erat sambil mempercepat pompaannya. Pantatku hampir-hampir tidak bisa bergerak karena jepitan kakinya. Aku mempercepat gerakan kon tolku, dan sekali, dua kali, tiga kali, sampai empat kali aku mengejan, menyemprotkan pejunya didalam me meknya. Badanku menjadi tegang sambil masih berpelukan kuat dengannya.

Beberapa saat tubuh kami masih tegang berpelukan sambil menahan nafas berusaha menikmatinya. Akhirnya tubuh kami menjadi lemas dan pelukannyapun mengendor. Kakinya sudah tidak menjepit pinggangku lagi. Tapi aku masih tetap tergeletak di atas tubuhnya. Aku mencium kening, mata, hidung dan bibirnya. Akhirnya kami saling melepaskan pelukan. Dengan pelahan kucabut kon tolku dari me meknya. Dia sedikit menggelinjang waktu aku mencabutnya. “mas, nikmat banget deh dien tot sama mas. Lagian mas mesra banget deh memperlakukan Fang-fang, seperti Fang-fang ini pacar mas saja. Istirahat dulu ya mas, abis itu Fang-fang masih kepingin ngerasain kon tol mas ngaduk2 me mek Fang-fang lagi”, kataku. “Iya sayang, apa sih yang gak boleh untuk kamu”, jawabku sambil tersenyum. Setelah itu kami berpelukan dan tertidur karena kelelahan.

Paginya dia terbangun karena aku mengusap2 me meknya. “Fang, si kakek pagi gini perlu kamu gak?” tanyaku. “Masa bodo ah, Fang-fang pengen nikmat ma mas lagi”. kon tolku sudah mulai ngaceng lagi. Aku mulai mengusap-usap it il dan me meknya. Rasanya seperti melayang setiap kali aku menyentuh it ilnya. Apalagi ketika aku mulai menjilati pentilnya, dia makin lemah tak berdaya. Lututnya terasa lemas yang membuat akuxmudah me jelajahi me meknya karena menjadi terbuka. Sambil memeluk pinggangnya dengan tangan kiri, aku mulai memainkan jari kanan di me meknya. Dengan ibu jari dan jari tengah, aku membuka me meknya. Jari telunjuk mulai meraba-raba it ilnya. Dia terlonjak setiap aku mengusap it ilnya dibarengi erangannya. Dia meremas-remas sendiri toketnya, sambil menahan kenikmatan di pagi hari. Puas memainkan it ilnya, lidahku mulai berperan. Setiap jilatan membuat dia menjerit. Dia berusaha menjepit kepalaku dengan pahanya, sehingga aku semakin ganas memainkan lidah. Sesekali aku mengisap it ilnya dengan keras. Dia menjadi semakin berisik mengeluarkan erangan. Aku gak perduli karena kamarku lumayan kedap suara.

Kini gilirannya membelai, mencium, menjilat, dan meremas kon tolku yang sudah ngaceng. Digenggamnya kon tolku yang besar dan keras. Satu kocokan, kini giliran aku yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangannya. Tanpa berlama-lama lagi, dia melumat kon tolku di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, dijilatinya seluruh permukaan kon tolku. Dia hampir tersedak karena ujung kon tolku yang panjang menyentuh pangkal rongga mulutnya, sementara di luar masih tersisa. Dia semakin bernafsu mengulum kon tolku. Pelan tapi pasti dia keluar masukkan kon tolku di mulutnya. Lidahnya disentuhkan ke ujung kon tolku.

Pahaku makin terbuka membuat kon tolku makin mengacung kencang. Dia mulai menjilati dan mengulum kantung pelerku. Posisinya yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang keatas. Aku mengusap pantatnya dan kemudian menarik lengannya. Dia kuciumnya sambil kurebahkan keranjang. Aku merebahkan badan disisinya. Berbaring miring, aku mengisap toketnya. Aku mulai bermain lagi di me meknya. Kali ini usapanku sedikit keras dan cepat menggosok it ilnya. Dia menggelinjang karenanya. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, dia kembali nyampe. “mas, sarapannya enak banget deh, mas pinter banget ngilik Fang-fang, sebentar aja Fang-fang dah nyampe”, desahnya.

Aku tidak menjawab, malah menindih tubuhnya. Dia bisa merasakan bobot tubuhku terutama di bagian bawah pinggangnya. Tanganku sudah tegak di sisi toketnya menopang badanku sendiri. Dia bisa merasakan bagian tubuh bawahku bergerak-gerak berusaha mengarahkan acungan kon tolku. Dia pun langsung meraih kon tolku dan membimbingnya ke me meknya. Aku mendorong kuat pantatku dan dia merasakan rangsekan kon tolku di dinding me meknya. Perlahan cairan me meknya melumasi permukaan kon tolku. Mulai aku menarik kembali kon tolku sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh kon tolku dilumat me meknya. Sodokan pertama kon tolku masuk seluruhnya. Diapun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, aku tidak langsung memompa cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, aku menahannya dan memandangi wajahnya sambil mengecup bibirnya.

Nikmat banget rasanya. Setelah itu, mulailah aku menggerakkan pantatku mengangkat dan menekan yang membuat kon tolku keluar masuk bergesekan dengan me meknya. Dia menyambut setiap gerakan dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dia mengerang makin lama makin keras. Karena erangannya sambil mendongakkan kepala membuatku tambah bernapsu. Semakin kuat dan cepat sodokanku membuatnya merasakan akan nyampe lagi. Dia hanya bisa mencengkram punggungku keras-keras ketika dia mencapai puncak. Kepalanya mendongak keatas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah dia nyampe, aku langsung menghentikan gerakan membiarkan kon tolku merasakan cengkraman kuat me meknya. Tindakan ini membuat aku merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan me meknya tertahan kon tolku, “mas, nikmat sekali…,” katanya sambil memelukku kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundakku. Sekali lagi aku tersenyum, “Enak?”. “Banget, lebih nikmat dari semalem. mas hebat banget deh mainnya”, jawabnya. “Gaya lain…?” tanyaku. Dia langsung mengangguk.

Aku membalik badannya dan mengangkat badannya bagian bawah dengan memeluk pinggang dari belakang. Tak menunggu lama aku langsung memasukkan kon tolku. Dia menunduk sambil menggigit bibir merasakan seluruh kon tolku terbenam makin dalam di me meknya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat aku langsung mendorong dengan cepat. Dia mengikuti irama dengan mendorong pantatnya ke belakang. Masuk hitungan belasan menit menyodok me meknya, belum ada tanda-tanda doronganku melemah. Sebaliknya justru makin kuat, membuat dia juga makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi badan, namun baik aku maupun dia justru makin bersemangat. Pantat dan pinggangnya makin bergerak liar membuat aku gak bisa menahan lenguhanku.

Kemudian ganti dia yang berinisiatif. Dilepaskannya kon tolku dari me meknya dan mendorong aku sampai telentang. Dia langsung menaiki tubuhku dan duduk di atas kon tolku yang masih ngaceng. Ketika dia bergerak naik turun, aku meremas toketnya yang terguncang-guncang. Telapakku yang besar berusaha meraup seluruh permukaan toketnya. Remasannya makin kuat membuat dia makin mempercepat gerakannya. Sekali lagi dia harus mengaku kalah. Karena meski dia telah mencoba berbagai goyangan, justru dia yang kembali yang nyampe duluan. dia langsung ambruk menindihku yang sudah siap menerimanya dengan pelukan dan kecupan. “mas kuat banget sih..”, desahnya.

“Kamu di bawah lagi ya…?”, jawabku. Dia mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kananku. Aku memasukkan kon tol nya ke mulutnya. Puas mengulum dan menjilati kon tol yang dipenuhi lendir me meknya, dia kembali merebahkan diri. Aku langsung menaikinya dan mendorong kon tolku masuk, dimulai dengan perlahan dan terus semakin lama semakin kuat dan cepat.

Kemudian sodokanku menjadi lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian aku mengerang panjang dan menyodokkan kon tolku sangat kuat beberapa kali. Diapun bisa merasakan hangatnya pejuku muncrat di dalam me meknya. Aku masih terus menyodok terputus-putus dan semakin melemah. Pejuku mengalir keluar setiap aku menyodokkan lagi kon tolku. Setelah benar-benar selesai, akupun ambruk menindihnya. Aku terdiam sesaat di atasnya. Dia mengusap lembut kepalaku, “Puas mas…?”. aku hanya mengangguk. Badanku terasa lemas. “Fang, nikmatnya benar-benar ngga ada yang nyamain…”. “mas juga hebat. Fang-fang selalu k o duluan. Terima kasih ya mas untuk kenikmatan ini. Fang-fang mau kok ngeladenin napsu mas lagi….”. Aku mengeratkan rangkulanku. Dia pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Setelah semuanya selesai, kami mandi bersama.


Cerita Sex: Melihat Tetangga Yang Seksi Membuat Ku Sange Berat


Bandar Judi: Kisah ini dimulai ketika aku memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuaku dan mengontrak sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta. Kulakukan itu karena aku dan istriku ingin belajar mandiri, apalagi kini sudah hadir si kecil anggota keluarga baru kami.
Ku akui, aku bukanlah suami yang baik, mengingat petualangan liarku ketika masih belum menikah. Sering aku bergonta ganti pacar yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan libidoku yang cukup tinggi.

Namun setelah menikah, kuredam keinginanku untuk berpetualang lagi. Di hadapan istri dan lingkunganku, aku mencoba menampilkan sebagai sosok yang baik-baik. Tidak neko-neko. Rahasia masa laluku pun aku simpan rapat-rapat.
Namun setelah satu bulan aku tinggal di lingkungan yang baru, tampaknya tabiat lamaku kumat kembali. Di sekitar rumahku, banyak ku temui wanita yang menarik perhatianku. Mulai dari ibu-ibu tetangga yang rata-rata tidak bekerja dan mahasiswi yang banyak kost di sekitar tempat tinggalku.

Satu sosok yang menarik perhatianku adalah Nanik, tetangga kontrakanku, namun tetangga-tetangga yang lain memanggilnya Mama Ryan sesuai dengan nama anaknya. Ketika pertama kali bertemu, ia terlihat berbeda dibanding ibu-ibu lain di sekitarnya. Wajahnya cukup cantik dengan Kulitnya yang kuning langsat, bodinya cukup montok namun tetap kencang walau usianya sudah di atas 37 tahun. Payudaranya pun terlihat proporsional di balik kaus yang sering dikenakannya.


Ia berasal dari Cianjur, jadi wajarlah kalo wajahnya cantik khas wanita priangan. Namun segala pesonanya itu tertutupi oleh kehidupannya yang sederhana. Suaminya hanya seorang supir pribadi yang penghasilannya terbatas, belum lagi kedua anaknya sudah beranjak remaja, yang tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar.

Hubungan istriku dengan Nanik cukup baik, sering Nanik berkunjung ke rumah dan ngobrol dengan istriku. Pada saat itu aku sering curi-curi pandang ke arahnya. Sering ia hanya mengenakan kaos longgar dan celana pendek kalau main ke rumah, sehingga belahan dada dan sebagian paha nya yang putih mulus menjadi santapanku. Dan kalo sudah begitu, batang penisku bisa mengeras diam-diam. Kapan ya aku bisa meniduri nya?
Info dari istriku pula lah akhirnya aku tahu kalo ternyata Nanik bekerja paruh waktu sebagai pembantu. Seminggu tiga kali ia bekerja membersihkan apartemen seorang ekspatriat.

Apartemen ini sering kosong karena sering di tinggal pemiliknya berdinas ke luar negeri, jadi ia di percaya untuk memegang kunci apartemen itu. Namun kegiatannya itu tidak membantu banyak dalam masalah keuangan keluarga di tengah kebutuhan sehari hari yang semakin mahal, dan ini kesempatanku untuk menjadi dewa penolong baginya, walau ada udang di balik batu, ingin merasakan bagaimana rasanya jepitan vagina istri orang. hehehe
Strategi untuk mendekatinya pun mulai aku jalankan. Dia berangkat kerja selalu pagi hari. yaitu tiap hari Senin, Rabu dan Jumat pada pukul 7 pagi. Aku tahu karena dia selalu lewat depan rumahku. Dia berangkat kerja menggunakan metro Mini.

Setelah tahu jadwalnya aku pun mulai mengatur siasat agar bisa berangkat bareng dengannya. Kuatur waktu berangkat kerjaku yang biasanya jam 8 menjadi lebih pagi lagi. Kebetulan arah apartemen tempatnya bekerja searah dengan kantorku di Sudirman.
Senin pagi itu kulihat dia sudah lewat depan rumahku untuk berangkat kerja, aku pun segera bersiap siap mengeluarkan mobilku dari garasi. Istriku sempat bertanya, koq hari ini berangkat lebih pagi. Kujawab saja ada meeting mendadak.
Mobil kulajukan perlahan menuju jalan besar dan kulihat di ujung gang. Nanik sedang menunggu Metro Mini yang akan membawanya ke Kampung Melayu. Kuhampiri dia dan kubuka jendela mobil dan menyapanya.

“Berangkat kerja Mbak Nanik?”
“eh….. iya mas Ardi,” jawabnya agak kaget.
“Bareng saya aja yuk, Mbak mau ke Kampung Melayu kan?’
“Iya mas……tp gak apa apa saya naik Metro aja,” Tolaknya dengan halus.
“Gak apa apa Mbak, kita kan searah ini, lagian metro mini kalo pagi pasti penuh,” ujarku coba membujuknya.

Dia sedikit bimbang, tapi akhirnya menyetujui ajakanku.
Dibukanya pintu depan mobilku dan masuklah dia, seketika aroma parfum nya pun menyeruak ke indera penciumanku.
“Terima kasih Mas Ardi. Maaf merepotkan.”
“Merepotkan apa sih mbak, wong kita searah koq.” Ujarku sambik tertawa ringan.
Khas senin pagi, lalu lintas pagi itu sangat macet. Di dalam mobil aku
pun menghabiskan waktu dengan ngobrol ringan dengannya. Banyak hal yang kami perbincangkan, mulai dari keluarganya, anak-anaknya, suaminya, lingkungan kerjanya. Intinya aku ingin lebih mendekatkan diri padanya agar tujuanku menidurinya bisa terlaksana. Tapi aku tidak mau terburu-buru.
Akhirnya kami tiba di Apartemen tempatnya bekerja, ku turunkan ia di pinggir jalan. Aku pun kembali melajukan mobilku ke arah kantor.
Selama dua minggu aku intens melakukan pendekatan dengan mengajaknya berangkat bareng. Untuk menghindari gunjingan tetangga, ia hanya mau naik mobilku di ujung gang.
Semakin dekat hubungan kita, ia semakin berani menceritakan hal-hal pribadinya. Kami pun sering bercanda dan ia pun mulai berani mencubit lengan atau pinggangku ketika ku goda. Obroloan pun kadang-kadang kubuat menjurus ke urusan ranjang. Dan dari situ pula aku tahu kalau Nanik sudah tidak berhubungan intim dengan suaminya sejak tiga bulan lalu di karenakan suaminya sudah terlalu lalah bekerja dan sering pulang larut malam. Wah kesempatan nih, pikirku.


Pagi itu kembali kami berangkat bareng, namun kulihat dia agak murung, aku pun memberanikan diri bertanya padanya.
“Ada apa mbak Nanik, saya lihat mbak agak murung pagi ini?’
“Gak apa-apa koq mas…..biasa kali saya kayak gini”, ia berusaha menyangkalnya.

“Mbak gak usah bohong sama saya, saya tahu mbak orangnya ceria, jadi kalau murung sedikit, pasti saya tahu.”

Nanik tersenyum mendengar perkataanku.
“Enggak apa-apa mas. Ya namanya dalam hidup pasti ada aja masalahnya.”
“Kalo mbak gak keberatan, cerita aja mbak, siapa tahu saya bisa bantu”
“Gimana ya Mas….”Nanik memutus pembicaraan sepertinya ragu untuk melanjutkannyaAku menoleh kepadanya, dan kupandangi wajahnya dalam-dalam sambil membujuknya untuk terus bercerita.

“Ini mas, si Ryan (anaknya yang bungsu) lagi butuh biaya untuk study tour ke Bandung, biayanya Rp. 500.000,- sedangkan aku sama bapaknya belum ada duit Karena sudah terpakai kakaknya untuk biaya praktikum kemarin. Sedangkan uangnya harus di kumpulkan besok. Study tour ini wajib karena sebagai syarat agar Ryan bisa lulus. Pusing saya mas.”
Aku tersenyum sambil menatap matanya.
“Ah gampang itu mbak, nanti saya bantu”
“Tuh kan saya jadi merepotkan mas Ardi.”
“ Gak apa-apa mbak, namanya kita bertetangga, kalau ada yang kesusahan, apa salahnya kita bantu.”
“Iya sih mas……ya udah, kalo mas Ardi ada, saya mau pinjam uang dulu sama mas Ardi.”
“Gampang itu mbak.”

Ketika sampai di depan apartemen tempatnya bekerja, segera kubuka dompetku dan kuambil uang 1 jt dan kuberikan padanya. Nanik kaget dengan pemberianku sebanyak itu.
“Koq banyak sekali Mas, saya kan butuh nya cuma lima ratus ribu?”
“Iya sisanya buat bekal Ryan di jalan, atau buat Mamahnya juga ga apa-apa.”Nanik tertawa mendengar ucapanku.

“Tapi saya belum bisa mengembalikan dalam waktu dekat mas.”
“Gak di kembalikan juga gak apa-apa mbak.”
“Lho koq gak di kembalikan, saya khan pinjem mas, jadi harus kembali.”
“Ya udah gampang itu mbak, kalo ada, ya di kembalikan kalo ga ada ya di kembalikan dengan cara lain.” Ujarku mencoba memancing di air bening. Hehehe
“Lho cara lain apa sih mas, koq saya bingung jadinya.”
Aku Cuma tertawa, dan nanik semakin bingung dengan sikapku.
“Ya udah nanti mbak telat loh ke kantornya.” Ujarku sambil bercanda.
“Kantor apa sih Mas, bisa aja deh.” Nanik tertawa sambil mencubit lenganku.
“Ya udah terima kasih ya Mas atas bantuannya.”
“sama-sama Mbak”
Nanik pun turun dari mobilku dan melangkah ke dalam area apartemen itu.

Siang itu, tiba-tiba ada sms masuk ke ponselku, ternyata ada pesan dari Nanik. Setelah ku baca, ia menyampaikan ucapan terima kasih sekali lagi pada ku karena sudah di bantu. Akupun membalasnya untuk tidak memikirkannya lagi sekaligus menanyakan posisinya sedang berada di mana saat ini.Ternyata dia masih ada di apartemen majikannya dan sedang beristirahat karena baru saja selesai mengerjakan tugas-tugasnya.

Ku coba iseng minta ijin padanya untuk main ke apartemen tempatnya bekerja apabila majikannya sedang tidak ada di tempat. Nanik mengijinkan karena Majikannya sedang keluar negeri selama seminggu. Dia pun memberi tahu tower dan nomor unit apartemennya.

Aku pun segera bergegas membereskan pekerjaanku di kantor dan ijin pada temanku untuk ke luar dengan alasan bertemu klient. Karena aku sering dinas luar, jadi gampang saja dapat ijinnya.
Segera kupacu mobilku menuju apartemennya. Tapi sebelumnya aku mampir ke salah satu restoran cepat saji dan membelikannya makan siang.
Mobilku kuparkir di basement apartemen, aku pun menuju ke unit apartemen tempatnya bekerja. Ku bunyikan Bel dan tak lama Nanik pun mempersilahkan aku masuk. Akupun segera duduk di sofa yang cukup lebar dan empuk yang ada di ruangan itu.
Unit apartemen itu cukup luas, ada dua kamar di dalamnya lengkap ada dapur dan minibarnya. Aku tebak majikannya seorang eksekutif di suatu perusahaan ternama dan apartemen ini di sediakan oleh perusahannya.
“Mau minum apa mas,” tiba-tiba Nanik menyadarkanku yang sedari tadi memperhatikan apartemen beserta isinya.
“Eh….air putih aja mbak.”
“Masak air putih sih, aku bikinin sirup ya?”
“Boleh Mbak kalau gak merepotkan.”
Tak lama dia pun membawa dua gelas es sirup.
“Wah jadi seger nih, siang-siang minum es sirup, apalagi di temani Mbak Nanik yang seger.”
“Ih apaan sih Mas Ardi,” Dia tertawa sambil mencubit pinggangku.
Wajahnya sudah kembali ceria tidak semuram pagi tadi
Kami pun ngobrol sambil menyantap makanan yang ku bawa. Setelah makan kami pun melanjutkan obrolan sambil menonton acara tv kabel.
Aku mulai memberanikan diri mendekatkan posisi dudukku dengannya dan Nanik diam saja. Ku coba pegang tangannya. Awalnya ia sepertinya canggung tapi akhirnya dapat ku genggam erat tangannya. Aku mulai membelai rambutnya yang panjang sebahu dan meniup tengkuknya dan tak lama bibir kami pun sudah saling bersilaturahmi. Berpagutan dengan bebasnya.

Bibirku di lumat habis oleh bibirnya, nafasnya mulai tersengal-sengal. Nampak birahinya mulai naik. Wajar saja wong 3 bulan tidak di setubuhi suaminya.
Tanganku pun ku beranikan menelusup di balik kemeja yang di kenakannya, ia pun diam saja, Kuraih payudara kiri di balik branya dengan tangan kananku, kuremas-remas halus sambil kumainkan putingnya. Ia mengelinjang sambil melenguh tertahan.
“Auhhh….achhh.”
Sambil melumat bibirnya kucoba membuka kancing bajunya satu persatu, dan ia pun mengikutinya dengan membuka kancing kemeja kerja yang aku kenakan. Kemeja-kemeja itu pun akhirnya terhampar di lantai.
Terpampang jelas di hadapanku tubuh mulus Nanik dengan payudara yang masih tertutup bra warna krem, Walau perutnya sedikit berlipat karena lemak, tetap saja tidak mengurangi keinginanku untuk menyetubuhinya.
Segera kubuka kait bra nya dan bra itu pun jatuh di pangkuannya. Payudara Nanik segera menyembul. Cukup besar dengan warna puting coklat tua dengan areola berwarna lebih muda. Puting itu mencuat dengan tegaknya. Keras.


Segera saja kuhisap puting susunya, Nanik melenguh lebih keras.
“Aaaccchhhh……Maasss. Aahhh….ouchhh. “ Ia semakin terangsang dengan perbuatanku.
Terus kuhisap puting susunya kanan dan kiri bergantian, Ia pun menggelinjang makin keras, kepala tengadah menatap langit-langit. Matanya terpejam namun mulutnya meracau mengeluarkan suara desahan dan rintihan. Kedua tangannya menjambak-jambak rambut di kepalaku.
Cukup lama kumainkan kedua puting susunya. Setelah puas Aku pun bangkit dari sofa dan segera berdiri. Nanik mengerti maksudku. Sambil tetap duduk di sofa, ia membuka ikat pingang dan celana yang ku kenakan, tidak lupa celana dalamku pun ikut dipelorotkannya ke bawah. Seketika itu juga peniskuku yang cukup besar dan berurat, mengacung ke depan dengan gagahnya. Nanik tersenyum sambil melirikku. Dipegang dan di belainya kepala penisku, di kocok-kocoknya perlahan batangnya berulang kali.

Tak lama di masukkan lah kejantananku ke dalam mulutnya, di kulumnya batang penisku sampai ke pangkalnya. Karena ukuran penisku yang cukup besar ia sedikit tersedak, aku pun tertawa geli. Tapi dengan usil, digigitnya batang penisku, aku pun menjerit. Di kocok lagi batang penis itu dengan gerakan yang lebih cepat sambil lidahnya dengan liar menjilat-jilat kantung zakar. Perlakuan Nanik sungungguh luar biasa, tidak tahan aku di buatnya. Aku pun ingin segera buru-buru menyetubuhinya.
Ku pinta Nanik bangkit berdiri dan melepaskan celana jeans yang masih di kenakannya. Ku balik badannya dan memintanya menungging. Lututnya di tumpukan ke sofa dan ia menungging di hadapanku dan tangannya menyangga tubuhnya pada sandaran sofa. Segera saja belahan vaginanya yang tertutup bulu jemput yang cukup lebat terlihat merekah di hadapanku. Bibir vagina nya mulai berwarna kecoklatan namun liang vaginanya masih menampakkan rona kemerahan yang tampak berkilat dan basah oleh cairan kewanitaan yang terus keluar karena rangsanganku tadi.

Segera saja ku pegang batang penisku dan kuarahkan kepalanya ke arah liang kewanitaan Nanik. Segera kumajukan pinggulku dan tak lama kepala dan batang penisku pun amblas sampai ke pangkalnya. Terbenam sepenuhnya dalam liang vagina tetanggaku ini. Nanik tercekat dan berteriak karena alat vitalku yang cukup besar menyesakkan rongga kewanitaannya. Ia menoleh padaku dengan mulut terbuka lebar sambil merintih.
“aaahhhh……”
Kedua tanganku memegang pantatnya yang cukup besar. Aku pun mulai memaju mundurkan pingulku. Batang penisku pun keluar masuk di liang vaginanya dengan tempo yang cukup cepat. Nanik terus merintih dengan riuhnya.
Acchhh…ouuchhh….achhh…..ouchhhh”
Acchhh…ouuchhh….achhh…..ouchhhh”
Sambil terus menggerakkan pinggulku, aku pun mulai meraih payudaranya yang mengantung dengan ke dua tanganku. Kumainkan puting susunya dengan kasar. Nanik pun semakin keras merintih dan meracau…….
Tak lama ia pun menjerit keras dan kurasakan ada kedutan di liang vaginanya. Otot vaginanya semakin mencengkram erat kejantananku. Kali ini Nanik mengalami orgasme yang pertama. Tubuhnya melemah, tangannya tidak sanggup lagi menahan tubuhnya. Kepalanya jatuh terkulai di sofa dengan posisi tetap menungging. Kupercepat permainanku, tetapi tampaknya spermaku tidak ingin keluar cepat-cepat.
Segera Kucabut batang penisku dari liang vaginanya. Segera ku balik tubuh Nanik menghadapku. Dengan posisi setengah duduk, Punggungnya bersandar di sandaran sofa kuangkat dan kurenggangkan kedua kakinya. Terlihat liang vagina yang menganga cukup lebar, segera saja kuhujamkan kejantananku ke liang kenikmatannya. Lagi-lagi Nanik menjerit tertahan ketika batang itu menerobos liang vaginanya. Ku maju mundurkan pinggulku dan terlihat penisku yang besar keluar masuk dengan bebasnya di liang sempit itu, menciptakan pemandangan yang indah. Bibir vagina itu menguncup ketika penisku menerobos masuk dan merekah ketika kutarik. Kedua tungkai Nanik kupegang dengan tanganku dan aku terus menyetubuhinya sambil tetap berdiri.
Payudara yang begitu menantang dengan puting yang mencuat sudah basah oleh keringat. Payudara itu bergoyang-gotang dengan hebatnya mengikuti irama sodokan penisku yang maju mundur di liang vagina Nanik. Kepala Nanik tergolek ke kanan dan kiri dengan mulut yang terus mendesis dan merintih. Lima belas menit aku terus menyodok liang vagina Nanik. Nanik pun mengimbanginya dengan menggoyang pinggulnya ke kanan ke kiri. Setelah dua puluh menit akupun tidak tahan lagi. Kupercepat frekuensi sodokan batang penisku ke dalam liang vaginanya dan tak lama cairan spermaku pun meyemprot deras ke dalam rahimnya. Berbarengan dengan kedutan keras di vaginanya menandakan ia mengalami orgasme keduanya. Kami pun terkulai lemas di atas sofa. Tubuhku menindih tubuhnya dengan kejantananku masih tertanam di liang vaginanya. Nafas kami tersengal-sengal karena pertempuran yang luar biasa nikmatnya.

Aku pun segera bangkit dan menarik penisku yang mulai mengendur dari liang vaginanya. Liang kenikmatan itu terlihat terngangga dan tampak carian putih meleleh keluar dari dalamnya. Nanik masih terkulai lemas di sofa. kakinya terjuntai ke lantai dan tangannya tergolek lemah di sebelah tubuhnya, segera kuhampiri dan kuciumi bibirnya.
“Enak mas,lain kali minta lagi ya.” Ujarnya sambil tersenyum.
“Siap, kapan aja mbak butuh, Aku siap melayani.” Candaku.
Dan diapun tertawa sambil mencubit pinggangku penuh arti.Akhirnya kesampaian juga niatku menyetubuhi tetangga yang lama aku idam-idamkan.
Setelah kejadian itu kami pun sering mencari-cari waktu untuk dapat bersetubuh kembali. Bahkan kami pernah melakukannya di dalam mobil.
Tampaknya persetubuhan yang ku berikan, lebih dinikmatinya dibanding bersetubuh dengan suaminya.


Cerita Sex: Bercinta Dengan Seorang Pegawai Perusahaan Swasta


Bandar Judi: Aku seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta di kota DKI, nama aku Iwan. Aku berumur 30 tahun dengan tinggi badan 170 cm serta berat badan 65 kg dan kata cewek-cewek sih, aku memiliki wajah dan tubuh yang sangat ideal untuk seorang laki-laki bujangan.

Perusahaan tempat aku kerja memberlakukan lima hari kerja yaitu setiap hari senin sampai Jumat, sehingga setiap hari sabtu aku selalu berada di rumah yang merupakan salah satu kompleks elit di kota aku itu.

Setiap hari sabtu aku selalu mengisi waktu dengan melihat situs porno, majalah porno, dan menonton film pornoh yang aku sewa di salah satu rental yang berada di kompleks tersebut, dan hal itu berlangsung selama berbulan-bulan.

Suatu saat hal tersebut tidak aku lakukan lagi karena setelah aku melihat Riska anak tetangga aku yang masih duduk di kelas 1 SMP yang kira-kira berumur 12 tahun dan aku sangat terpesona dengan kemolekan tubuh anak tersebut.

Riska memiliki tubuh yang indah untuk ukuran anak seumur dia dengan tinggi badan sekitar 155 cm dan berat badan sekitar 45kg serta memiliki dua bukit kembar yang berukuran sedang yang tercermin dari tonjolan padat dibalik seragam sekolah yang ketat dan tank top yang biasa dikenakannya dan yang tidak kalah menariknya lagi

Ia memiliki pantat yang sangat padat dan berisi yang terlihat dari rok sekolah setinggi lutut dan rok mini yang ia kenakan dan anehnya lagi aku tidak pernah melihat adanya garis CD yang ia kenakan, dan yang pasti memiawnya belum ditumbuhi bulu-bulu halus.

Aku sering melihat riska kesekolah setiap hari dengan sengaja berdiri didepan rumah sebelum aku berangkat kerja atau pada sore hari sepulang kerja di saat ia sedang jalan-jalan sore di sekitar kompleks dan pada saat itu aku selalu memandangi riska dengan sangat tajam dan penuh nafsu namun ia tak menyadarinnya dan sampai suatu hari riska mulai menyadarinya dan mulai membalas tatapan aku dengan mata yang sangat menggoda.

Sejak kejadian itu aku selalu terbayang-bayang dengan kemolekan riska setiap usai bekerja namun bukannya aku jatuh cinta padanya tapi aku suka akan kemolekan tubuhnya dan sangat bernafsu untuk mencicipinnya, tetapi nafsu birahi tersebut aku tahan dan aku lampiaskan dengan hanya memandangi tubuhnya dari balik pagar pada sore hari disaat ia sedang berjalan-jalan dikompleks.

Riska selalu menggunakan tank top dan rok mini setiap akan berjalan- jalan disekitar kompleks bersama kakak dan sepupunya (Yani yang sedang kuliah smst 2 dan Neni yang duduk di sma kls 3) dan ini dia lakukan setiap sore.

Seperti biasanya pada sore hari setiap pulang kerja aku selalu menunggu riska untuk memandangi tubuhnya, tetapi pada saat itu aku heran karena riska hanya sendiri saja berjalan dengan sangat santai dan seperti biasa pula ia hanya memakai tank top yang pada saat itu berwarna kuning dan rok mini berwarna putih tembus pandang dan yang tidak terlalu ketat.

Dengan sangat nafsu aku tatap dia dari balik pagar dan dia pun membalasnya dan tanpa aku sangka-sangka riska menuju ke pintu pagar rumah aku, dan dalam hati aku bertanya mungkin dia akan marah karena aku selalu menatapnya, tetapi hal tersebut tidak terjadi.

Dia malah tersenyum manis sambil duduk dideket didepan pagar rumah aku yang membuat nafsu aku semakin tinggi karena dengan leluasa aku dapat memandangi tubuh riska dan yang lebih mengasikan lagi ia duduk dengan menyilangkan pahannya yang membuat sebagian roknya tersingkap disaat angin meniup dengan lembutnya namun ia diam dan membiarkan saja.

Dengan penuh nafsu dan penasaran ingin melihat tubuh riska dari dekat maka aku dekati dia dan bertannya. “Duduk sendirian nih boleh aku temanin,” dengan terkejut riska mambalikan wajahnya dan berkata “eh…… boooboleh.”

Aku langsung duduk tepat di sampingnya dikarenakan deker tersebut hanya pas untuk dua orang. Dan untuk mengurangi kebisuan aku bertannya pada riska “Biasanya bertiga, temennya mana..?”, dengan terbata-bata riska berkata.

“Gi.. gini om, mereka i.. itu bukan temen aku tetapi kakak dan sepupu aku.” aku langsung malu sekali dan kerkata “Sorry.” kemudia riska menjelaskan bahwa kakak dan sepupunnya lagi ke salah satu mal namannya MM.

Riska mulai terlihat santai tetapi aku semakin tegang jantungku semakin berdetak dengan kerasnya dikarenakan dengan dekatnya aku dapat memandangi paha mulus riska ditambah lagi dua bukit kembarnya tersembul dari balik tank topnya apabila dia salah posisi.

Diam-diam aku mencuri pandang untuk melihatnya namun dia mulai menyadarinya tetapi malah kedua bukit kembarnya tersebut tambah diperlihatkannya keaku yang membuat aku semakin salah tingkah dan tampa sengaja aku menyentuh pahanya yang putih tanpa ditutupi oleh rok mininya.

karena tertiup angin yang membuat riska terkejut dan riskapun tidak marah sama sekali sehingga tangan aku semakin penasaran dan aku dekapkan tangan aku ke pahanya dan dia pun tidak marah pula dan kebetulan pada saat itu langitpun semakin gelap sehingga aku gunakan dengan baik.

Dengan perlahan-lahan tangan kiri aku yang berada di atas pahanya aku pindahkan ke pinggannya dan meraba-raba perutnya sambil hidungku aku dekatkan ketelingannya yang membuat riska kegelian karena semburan nafasku yang sangat bernafsu dan mata ku tak berkedip melihat kedua bukit kembarnya yang berukuran sedang dibalik tank topnya.

Tanpa aku sadari tangan kiri aku telah menyusup kedalam tank top yang ia gunakan menuju kepunggunya dan disana aku menemukan sebuah kain yang sangat ketat yang merupakan tali BH nya dan dengan sigapnya tangan aku membuka ikatan BH yang dikenakan riska yang membuat tangan aku semakin leluasa ber gerilya dipunggunya.

Perlahan- lahan menyusup kebukit kembarnya serta tangan kanan aku membuka ikatan tali BH riska yang berada di lehernya dan dengan leluasa aku menarik BH riska tersebut keluar dari tank topnya karena pada saat itu riska mengggunakan BH yang biasa digunakan bule pada saat berjemur.


Setelah aku membuka BHnya kini dengan leluasa tangan aku meraba, memijit dan memelintir bukit kembarnya yang membuat riska kegelian dan terlihat pentil bukit kembarnya telah membesar dan berwarna merah dan tanpa ia sadari ia berkata “Terusss.. nikmattttt.. Ommmm……….. ahh.. ahhhh….”

Dan itu membuat aku semakin bernafsu, kemudian tangan aku pindahkan ke pinggannya kembali dan mulai memasukannnya ke dalam rok mini yang ia kenakan dengan terlebih dahulu menurunkan res yang berada dibelakang roknya.

Kemudian tangan aku masukan kedalam rok dan CDnya dan meremas-remas bokongnya yang padat dan berisi dan ternyata riska memakai CD model G string sehingga membuat aku berpikir anak SMP kayak dia kok sudah menggunakan G string tetapi itu membuat pikiranku selama ini terjawab bahwa riska selama ini menggunakan G string sehingga tidak terlihat adanya garis CD.

Lima menit berlalu terdengar suara riska “Ahh.. terusss Om… terusss.. nikmattttt.. ahh.. ahhhh…” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut riska pada saat aku menyentuh dan memasukan jari tengan aku ke dalam memiawnya yang belum ditumbuhi bulu-bulu tersebut dari belakang dan aku pun makin menggencagkan seranganku dengan mengocok memiawnya dengan cepat. Tiba-tiba pecahlah rintihan nafsu keluar dari mulut Riska.

“Ouuhhh.. Ommmm.. terus.. ahhh.. ahhhhhhhhh.. ahhhhhhhhhhhhhh..” riska mengalami orgasme untuk yang pertama kali.

Setelah riska mengalami orgasme aku langsung tersentak mendengar suara beduk magrib dan aku menghentikan seranganku dan membisikan kata-kata ketelinga riska “Udah dulu ya..” dengan sangat kecewa riska membuka matanya dan terlihat adanya kekecewaan akibat birahinya telah sampai dikepala.

Aku menyuruhnya pulang sambil berkata “Kapan-kapan kita lanjutkan lagi,” ia langsut menyahut “Ya om sekarang aja tanggung nih, lihat memiaw aku udah basah..” sambil ia memegang memiawnya yang membuat aku berpikir anak ini tinggi juga nafsunya.

Aku memberinya pengertian dan kemudian ia pulang dengan penuh kekecewan tanpa merapikan tank top dan roknya yang resnya masih belum dinaikan namun tidak membuat rok mininya turun karena ukuran pingganya yang besar.

Tetapi ada yang lebih parah ia lupa mengambil BH nya yang aku lepas tadi sehingga terlihat bukit kembarnya bergoyang-goyang dan secara samar-samar terlihat putting gunung kembarnya yang telah membesar dan berwarna merah dari balik tank topnya yang pastinya akan membuat setiap orang yang berpapasan dengannya akan menatapnya dengan tajam penuh tanda tanya.

Setelah aku sampai di rumah aku langsug mencium BH riska yang ia lupa, yang membuat aku semakin teropsesi dengan bentuk gunung kembarnya dan dapat aku bayangkan dari bentuk BH tersebut.

Sejak kejadian sore itu, lamunanku semakin berani dengan menghayalkan nikmatnya bersetubuh dengan riska namun kesempatan itu tak kunjung datang dan yang mengherankan lagi riska tidak pernah berjalan-jalan sore lagi dan hal tersebut telah berlangsung selama 1 minggu sejak kejadian itu, yang membuat aku bertanya apakah dia malu atau marah atas kejadian itu.

Sampai suatu hari tepatnya pada hari sabtu pagi dan pada saat itu aku libur, cuaca sangat gelap sekali dan akan turun hujan, aku semakin BT maka kebiasaan aku yang dulu mulai aku lakukan dengan menonton film porno, tapi aku sangat bosan dengan kaset tersebut.

Hujanpun turun dengan derasnya dan untuk menghilangkan rasa malas dan bosan aku melangkah menuju keteras rumah aku untuk mengambil koran pagi, tapi setibanya didepan kaca jendela aku tersentak melihat seorang anak SMP sedang berteduh, ia sangat kedinginan dikarenakan bajunya basah semuannya yang membuat seluruh punggunya terlihat termasuk tali BH yang ia kenakan.

Perlahan-lahan nafsuku mulai naik dan aku perhatikan anak tersebut yang kayaknya aku kenal dan ternyata benar anak tersebut adalah Riska, dan aku berpikir mungkin dia kehujanan saat berangkat sekolah sehingga bajunya basah semua.

Kemudian aku mengatur siasat dengan kembali ke ruang tengah dan aku melihat film porno masih On, maka aku pun punya ide dengan megulang dari awal film tersebut dan akupun kembali ke ruang tamu dan membuka pintu yang membuat riska terkejut.

Pada saat riska terkejut kemudia aku bertannya pada dia “Lo riska ngak kesekolah nih?” dengan malu- malu riska menjawab “Ujan om..” aku langsung bertannya lagi “Ngak apa-apa terlambat.” “Ngak apa-apa om karena hari ini ngak ada ulangan umum lagi.” riska menjawab dan aku langsung bertannya “Jadi ngak apa-apa ya ngak kesekolah?”.


“Ia om”, riska menjawab dan dalam hati aku langsung berpikir bahwa selama ini riska tidak pernah kelihatan karena ia belajar untuk ulangan umum, dan inilah kesempatan yang aku tunggu- tunggu.

Aku langsung menawarinya untuk masuk kedalam dan tanpa malu-malu karena udah kedingin dia langsung masuk kedalam ruang tamu dan langsung duduk dan pada saat itu aku memperhatikan gunung kembarnya yang samar- samat tertutupi BH yang terlihat dari balik seragam sekolahnya yang telah basah sehingga terlihat agak transparan.

Melihat riska yang kedinginan, maka aku menawari dia untuk mengeringkan badannya di dalam dan dia pun setuju dan aku menunjukan sebuah kamar di ruang tengah dan aku memberi tahu dia bahwa di sana ada handuk dan baju seadannya.

Dengan cepat riska menuju ke ruang tengah yang disana terdapat TV dan sedang aku putar film porno, hal tersebut membuat aku senang, karena riska telah masuk kedalam jebakanku dan berdasarkan perkiraan aku bahwa riska tidak akan mengganti baju tetapi akan berhenti untuk menonton film tersebut.

Setelah beberapa lama aku menunggu ternyata riska tidak kembali juga dan akupun menuju keruang tengah dan seperti dugaanku riska menonton film tersebut dengan tangan kanan di dalam roknya sambil mengocok memiawnya dan tangan kiri memegang bukit kembarnya.

Aku memperhatikan dengan seksama seluruh tingkah lakunya dan perlahan-lahan aku mengambil handy cam dan merekam seluruh aktivits memegang dan mengocok memiaw dan bukit kembarnya yang ia lakukan sendiri dan rekaman ini akan aku gunakan untuk mengancamnya jika ia bertingkah.

Setelah merasa puas aku merekamnya. Aku menyimpan alat tersebut kemudian aku dekati riska dari belakang. Aku berbisik ketelinga riska, enak ya, riska langsung kaget dan buru- buru melepaskan tangannya dari memiaw dan bukit kembarnya, aku langsung menangkap tangannya dan berbisik lagi

“Teruskan saja, aku akan membantumu.” kemudian aku duduk dibelakang riska dan menyuruh riska untuk duduk di pangkuanku yang saat itu penisku telah menegang dan aku rasa riska menyadari adanya benda tumpul dari balik celana yang aku kenakan.

Dengan perlahan-lahan, tanganku aku lingkarkan keatas bukit kembarnya dan ciumanku yang menggelora mencium leher putih riska, tangan kananku membuka kancing baju riska satu demi satu sampai terlihat bukit kembarnya yang masih ditutupi BH yang bentuknya sama pada saat kejadian yang sore lalu.

Riska sesekali menggelinjat pada saat aku menyentuh dan meremas bukit kembarnya namun hal tersebut belum cukup, maka aku buka sebagian kancing baju seragam yang basah yang digunakan riska kemudian tagan kiri aku masuk ke dalam rok riska dan memainkan bukit kecilnya yang telah basah dan pada saat itu rok yang ia gunakan aku naikan ke perutnya dengan paksa sehingga terlihat dengan jelas G string yang ia gunakan.

Aku langsung merebahkan badannya diatas karpet sambil mencium bibir dan telinganya dengan penuh nafsu dan secara perlahan-lahan ciuman tersebut aku alihkan ke leher mulusnya dan menyusup ke kedua gunung kembarnya yang masih tertutup BH yang membuat riska makin terangsang dan tanpa dia sadari dari mulutnya mengeluarkan desahan yang sangat keras.

“Ahhhhh terussssssss Omm…….. terusssssss…. nikmattttttt….. ahh…. ahhhhhhhhhhh……. isap terus Om.. Ahhhh…….. mhhhhhhhh. Omm…”  .

Setelah lama mengisap bukit kembarnya yang membuat pentil bukit kembarnya membesar dan berwarna merah muda, perlahan- lahan ciuman aku alihkan ke perutnya yang masih rata dan sangat mulus membuat riska tambah kenikmatan.

“Ahh ugggh…. uuhh…. agh…. uhh…. aahh”, Mendengar desahan riska aku makin tambah bernafsu untuk mencium memiawnya, namun kegiatanku di perut riska belum selesai dan aku hanya menggunakan tangan kiri aku untuk memainkan memiawnya terutama klitorisnya yang kemudian dengan menggunakan ketiga jari tangan kiri aku, aku berusaha untuk memasukan kedalam memiaw riska.

Namun ketiga jari aku tersebut tidak pas dengan ukuran memiawnya sehingga aku mencoba menggunakan dua jari tetapi itupun sia-sia yang membuat aku berpikir sempit juga memiaw anak ini, tetapi setelah aku menggunakan satu jari barulah dapat masuk kedalam memiawnya, itupun dengan susah payah karena sempitnya memiaw riska.

Dengan perlahan-lahan kumaju mundurkan jari ku tersebut yang membuat riska mendesah. “Auuuuuggggkkkk…” jerit Riska. “Ah… tekan Omm.. enaaaakkkkk…terusssss Ommm…” Sampai beberapa menit kemudia riska mendesah dengan panjang.

“Ahh ugggh…, uuhh…, agh…, uhh…, aahh”, yang membuat riska terkulai lemah dan aku rasa ada cairan kental yang menyempor ke jari aku dan aku menyadari bahwa riska baru saja merasakan Orgasme yang sangat nikmat.

Aku tarik tangan aku dari memiawnya dan aku meletakan tangan aku tersebut dihidungnya agar riska dapat mencium bau cairan cintannya. Setelah beberapa saat aku melihat riska mulai merasa segar kembali dan kemudian aku menyuruh dia untuk mengikuti gerakan seperti yang ada di film porno yang aku putar yaitu menari striptis, namun riska tampak malu tetapi dia kemudian bersedia dan mulai menari layaknya penari striptis sungguhan.

Perlahan-lahan riska menanggalkan baju yang ia kenakan dan tersisa hanyalah BH seksinya, kemudian disusul rok sekolahnya yang melingkar diperutnya sehingga hanya terlihat G string yang ia kenakan dan aku menyuruhnya menuju ke sofa dan meminta dia untuk melakukan posisi doggy, riska pun menurutinya dan dia pun bertumpuh dengan kedua lutut dan telapak tangannya.

Dengan melihat riska pada posisi demikian aku langsug menarik G string yang ia kenakan ke arah perutnya yang membuat belahan memiawnya yang telah basah terbentuk dari balik G string nya, dan akupun mengisap memiawnya dari balik G string nya dan perlahan-lahan aku turunkan G string nya dengan cepat sehingga G string yang riska kenakan berada di ke dua paha mulusnya, sehingga dengan leluasa dan penuh semangat aku menjilat, meniup, memelintir klitorisnya dengan mulut aku.

“Aduh, Ommm…! Pelan-pelan dong..!” katanya sambil mendesis kesakitan Riska menjatuhkan tubuhnya kesofa dan hanya bertumpuh dengan menggunakan kedua lututnya. Aku terus menjilati bibir memiawnya, klitorisnya, bahkan jariku kugunakan untuk membuka lubang sanggamanya dan kujilati dinding memiawnya dengan cepat yang membuat riska mendesah dengan panjang.


“Uhh…, aahh…, ugghh…, ooohh”. “Hmm…, aumm…, aah…, uhh…,ooohh…, ehh”. “Oooom…, uuhh…” Riska menggeliat- geliat liar sambil memegangi pinggir sofa. “Ahhh… mhhh… Omm…” demikian desahannya.

Aku terus beroperasi dimemiawnya. Lidahku semakin intensif menjilati liang kemaluan Riska. Sekali-sekali kutusukkan jariku ke dalam memiawnya, membuat Riska tersentak dan memiawik kecil.

Kugesek-gesekkan sekali lagi jariku dengan memiawnya sambil memasukkan lidahku ke dalam lubangnya. Kugerakkan lidahku di dalam sana dengan liar, sehingga riska semakin tidak karuan menggeliat.

Setelah cukup puas memainkan vaginanya dengan lidahku dan aku dapat merasakan vaginanya yang teramat basah oleh lendirnya aku pun membuka BH yang dikenakan riska begitupun dengan G string yang masih melingkar dipahanya.

Aku menyuruh di untuk duduk disofa sambil menyuruh dia membuka celana yang aku gunakan, tetapi riska masih malu untuk melakukannya, sehingga aku mengambil keputusan yaitu dengan menuntun tanggannya masuk ke balik celana aku dan menyuruh dia memegang penis aku yang telah menegang dari tadi.

Setelah memegang penis aku, dengan sigapnya seluruh celana aku (termasuk celana dalam aku) di turunkannya tanpa malu-malu lagi oleh riska yang membuat penis aku yang agak besar untuk ukuran indonesia yaitu berukuran 20 cm dengan diameter 9 cm tersembul keluar yang membuat mata riska melotot memandang sambil memegangnya.

Aku meminta riska mengisap penis aku dan dengan malu-malu pula ia mengisap dan mengulum penis aku, namun penisku hanya dapat masuk sedalam 8 cm dimulut riska dan akupun memaksakan untuk masik lebih dalam lagi sampai menyentuh tenggorokannya dan itu membuat riska hampir muntah.

Kemudian ia mulai menjilatinya dengan pelan- pelan lalu mengulum-ngulumnya sambil mengocok-ngocoknya, dihisap- hisapnya sembari matanya menatap ke wajahku, aku sampai merem melek merasakan kenikmatan yang tiada tara itu.

Cepat-cepat tangan kananku meremas bukit kembarnya, kuremas-remas sambil ia terus mengisap-isap penisku yang telah menegang semakin menegang lagi. Kemudian aku menyuruh riska mengurut penisku dengan menggunakan bukit kembarnya yang masih berukuran sedang itu yang membuat bukit kembar riska semakin kencang dan membesar.

Dan menunjukan warna yang semakin merah. Setelah puas, aku rebahkan tubuh riska disofa dan aku mengambil bantal sofa dan meletakan dibawan bokong riska (gaya konvensional) dan aku buka kedua selangkangan riska yang membuat memiawnya yang telah membesar dan belum ditumbuhi bulu-bulu halus itu merekah sehingga terlihat klitorisnya yang telah membesar.

Batang penisku yang telah tegang dan keras, siap menyodok lubang sanggamanya. Dalam hati aku membatin, “Ini dia saatnya… lo bakal habis,riska..!” mulai pelan-pelan aku memasukkan penisku ke liang surganya yang mulai basah, namun sangat sulit sekali, beberapa kali meleset, hingga dengan hati-hati aku angkat kedua kaki riska yang panjang itu kebahu aku, dan barulah aku bisa memasukan kepala penisn aku, dan hanya ujung penisku saja yang dapat masuk pada bagian permukaan memiaw riska.

“Aduhhhhhh Omm.. aughhhhghhhhh… ghhh… sakit Omm…” jerit Riska dan terlihat riska menggigit bibir bawahnya dan matanya terlihat berkaca-kaca karena kesakitan. Aku lalu menarik penisku kembali dan dengan hati2 aku dorong untuk mencoba memasukannya kembali namun itupun sia-sia karena masih rapatnya memiaw riska walaupun telah basah oleh lendirnya.

Dan setelah beberapa kali aku coba akhirnya sekali hentak maka sebagian penis aku masuk juga. Sesaat kemudian aku benar-benar telah menembus “gawang” keperawanan riska sambil teriring suara jeritan kecil.

“Oooooohhhhgfg….. sa… kiiiit…. Sekkkallliii…. Ommmmm….”, dan aku maju mundurkan penis aku kedalam memiaw riska “Bless, jeb..!” jeb! jeb! “Uuh…, uh…, uh…, uuuh…”, ia mengerang. “Auuuuuggggkkkk…” jerit Riska.

“Ommm Ahh…, matt.., maatt.., .ii… aku…” Mendengar erangan tersebut aku lalu berhenti dan membiarkan memiaw riska terbiasa dengan benda asing yang baru saja masuk dan aku merasa penis aku di urut dan di isap oleh memiaw riska, namun aku tetap diam saja sambil mengisap bibir mungilnya dan membisikan.

“Tenang sayang nanti juga hilang sakitnya, dan kamu akan terbiasa dan merasa enakan.” Sebelum riska sadar dengan apa yang terjadi, aku menyodokkan kembali penisku ke dalam memiaw riska dengan cepat namun karena masih sempit dan dangkalnya nya memiaw riska maka penisku hanya dapat masuk sejauh 10 cm saja, sehingga dia berteriak kesakitan ketiga aku paksa lebih dalam lagi.

“Uhh…, aahh…, ugghh…, ooohh”. “Hmm…, aumm…, aah…, uhh…, ooohh…, ehh”. “Ooommm…,sakkkitt…… uuhh…, Ommm…,sakitttt……….. ahh”. “Sakit sekali………… Ommm…, auhh…, ohh…” “Riska tahan ya sayang”. Untuk menambah daya nikmat aku meminta riska menurunkan kedua kakinya ke atas pinggulku sehingga jepitan memiawnya terhadap penisku semakin kuat.. Nyaman dan hangat sekali memiawnya..!


Kukocok keluar masuk penisku tanpa ampun, sehingga setiap tarikan masuk dan tarikan keluar penisku membuat riska merasakan sakit pada memiawnya. Rintihan kesakitannya semakin menambah nafsuku. Setiap kali penisku bergesek dengan kehangatan alat sanggamanya membuatku merasa nikmat tidak terkatakan.

Kemudian aku meraih kedua gunung kembar yang berguncang-guncang di dadanya dan meremas-remas daging kenyal padat tersebut dengan kuat dan kencang, sehingga riska menjerit setinggi langit.

Akupun langsung melumat bibir riska membut tubuh riska semakin menegang. “Oooom…., ooohh…, aahh…, ugghh…, aku…, au…, mau…, ah…, ahh…, ah…, ah…, uh…, uhh”, tubuh riska menggelinjang hebat, seluruh anggota badannya bergetar dan mengencang, mulutnya mengerang, pinggulnya naik turun dengan cepat dan tangannya menjambak rambutku dan mencakar tanganku, namun tidak kuperdulikan. Untunglah dia tidak memiliki kuku yang panjang..!

Kemudian riska memeluk tubuhku dengan erat. Riska telah mengalami orgasme untuk yang kesekian kalinya. “Aaww…, ooww…, sshh…, aahh”, desahnya lagi. “Aawwuuww…, aahh…, sshh…, terus Ommm, terruuss…, oohh” “Oohh…, ooww…, ooww…, uuhh…, aahh… “, rintihnya lemas menahan nikmat ketiga hampir 18 cm penisku masuk kedalam memiawnya dan menyentuh rahimmnya.

“Ahh…, ahh…, Oohh…” dan, “Crrtt…, crtr.., crt…, crtt”, air maninya keluar.
“Uuhh… uuh… aduh.. aduh… aduhh.. uhh… terus.. terus.. cepat… cepat aduhhh..!”

Sementara nafas saya seolah memburunya, “Ehh… ehhh… ehh..”
“Uhhh… uhhh…. aduh… aduh… cepat.. cepat Ommm… aduh..!”
“Hehh.. eh… eh… ehhh..”
“Aachh… aku mau keluar… oohh… yes,” dan…
“Creeet… creeet… creeet…”
“Aaaoooww… sakit… ooohhh… yeeaah… terus… aaahhh… masukkin yang dalam Ommm ooohhh… aku mau keluar… terus… aahhh… enak benar, aku… nggak tahaaan… aaakkhhh…”

Setelah riska orgasme aku semakin bernafsu memompa penisku kedalam memiawnya, aku tidak menyadari lagi bahwa cewek yang aku nikmati ini masih ABG berumur 12 tahun. Riska pun semakin lemas dan hanya pasrah memiawnya aku sodok. Sementara itu … aku dengarkan lirih … suara riska menahan sakit karena tekanan penisku kedalam liang memiawnya yang semakin dalam menembus rahimnya.

Aku pun semakin cepat untuk mengayunkan pinggulku maju mundur demi tercapainya kepuasan. Kira-kira 10 menit aku melakukan gerakan itu. Tiba-tiba aku merasakan denyutan yang semakin keras untuk menarik penisku lebih dalam lagi, dan.. “Terus.., Omm.., terus.. kan..! Ayo.., teruskan… sedikit lagi.., ayo..!” kudengar pintanya dengan suara yang kecil sambil mengikuti gerakan pinggulku yang semakin menjadi.

Dan tidak lama kemudian badan kami berdua menegang sesaat, lalu.., “Seerr..!” terasa spermaku mencair dan keluar memenuhi memiaw riska, kami pun lemas dengan keringat yang semakin membasah di badan.

Aku langsung memeluk riska dan membisikan “Kamu hebat sayang, apa kamu puas..?” diapun tersenyum puas, kemudian aku menarik penis aku dari memiawnya sehingga sebagian cairan sperma yang aku tumpahkan di dalam memiawnya keluar bersama darah keperawanannya, yang membuat nafsuku naik kembali, dan akupun memompa memiaw riska kembali dan ini aku lakukan sampai sore hari dan memiaw riska mulai terbiasa dan telah dapat mengimbagi seluruh gerakanku dan akupun mengajarinya beberapa gaya dalam bercinta.

Sambil menanyakan beberapa hal kepadanya “Kok anak SMP kaya kamu udah mengenakan G string dan BH seksi” riska pun menjelaskannya “bahwa ia diajar oleh kakak dan sepupunya” bahkan katanya ia memiliki daster tembus pandang (transparan). Mendengar cerita riska aku langsung berfikir adiknya saja udah hebat gimana kakak dan sepupunya, pasti hebat juga.

Kapan-kapan aku akan menikmatinya juga. Setelah kejadian itu saya dan riska sering melakukan seks di rumah saya dan di rumahnya ketika ortu dan kakanya pergi, yang biasanya kami lakukan di ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, meja kerja, meja makan, dapur., halaman belakang rumah dengan berbagai macam gaya dan sampai sekarang, apabila saya udah horny tinggal telepon sama dia dan begitupun dengan dia.

Riska sekarang telah berumur 14 tahun dan masih suka dateng mengunjungi rumah saya, bahkan riska tidak keberatan bila aku suruh melayani temen-temen aku dan pernah sekali ia melayani empat sekaligus temen-temen aku yang membuat riska tidak sadarkan diri selama 12 jam, namun setelah sadar ia meminta agar dapat melayani lebih banyak lagi katanya.

Yang membuat aku berpikir bahwa anak ini maniak sex, dan itu membuat aku senang karena telah ada ABG yang memuaskan aku dan temen-temen aku, dan aku akan menggunakan dia untuk dapat mendekati kakak dan sepupunya.